- Diskusi budaya tentang kearifan ekologis masyarakat Pasaman pra-bencana diadakan di Candi Tanjung Medan, 23 November 2025.
- Para ahli memaparkan bahwa peradaban Pasaman kuno berakar pada pemahaman ekologis mendalam dan keseimbangan alam.
- Kearifan leluhur tentang penghormatan terhadap alam bertolak belakang dengan kondisi saat ini, memicu kerentanan bencana.
SuaraSumbar.id - Beberapa hari sebelum banjir dan longsor menerjang Sumatera Barat, sebuah diskusi budaya digelar di Kompleks Candi Tanjung Medan, Pasaman, Sumatera Barat, Minggu (23/11/2025).
Forum itu berlangsung hangat, yang dihadiri sejumlah guru sejarah, pegiat budaya, pekerja seni, komunitas dan pegiat lingkungan. Para pembicara mengulas candi, prasasti, serta kearifan ekologis masyarakat masa klasik. Tidak ada yang membayangkan bahwa apa yang dibahas pada hari itu akan terasa seperti peringatan ketika hujan ekstrem datang hanya beberapa hari kemudian.
Air merusak akses jalan, menghanyutkan rumah, serta memaksa ribuan warga mengungsi. Ironi itu sulit diabaikan. Tempat yang dulu dibangun sebagai ruang keharmonisan dengan alam kini menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap bencana.
Diskusi budaya menghadirkan tiga narasumber. Peneliti budaya Arbi Tanjung memaparkan bahwa Pasaman sejak dulu bukan sekadar titik geografis, melainkan ruang peradaban yang dibangun berdasarkan pemahaman ekologis yang sangat matang.
Arbi menjelaskan bahwa keberadaan kuburan rajo berukuran besar, menhir, lesung batu raksasa, dan kapak persegi menandakan bahwa manusia telah lama mendiami Pasaman. Mereka menata kehidupan, tempat tinggal, dan kematian dalam hubungan erat dengan alam sekitar. Alam bukan latar kehidupan, melainkan bagian dari struktur sosial dan keyakinan.
Ketika pengaruh Hindu dan Buddha masuk ke wilayah ini, hubungan dengan alam tidak hilang. Justru berpadu. Situs suci dibangun di punggung bukit, lembah, dan hulu sungai. Candi Tanjung Medan serta situs lain seperti Pancahan, Koto Rao, Tanjung Beriang, Kampung Petani, Air Tobing, Gunung Gobah, dan Rambah Langsek Kadok menunjukkan pola yang konsisten.
Bangunan pemujaan menghadap air atau gunung.
Menurut Arbi, bagi masyarakat masa klasik, air dipahami sebagai sumber kehidupan dan penyucian, sementara gunung adalah ruang suci. Kehidupan spiritual hanya dapat berlangsung jika manusia dan alam saling menghormati.
Kearifan tersebut tampak pula pada temuan pripin di Candi Tanjung Medan. Wadah berbentuk kendi itu berisi emas, manik manik dengan pola silang empat arah, biji bijian, dan sisa arang hitam. Emas berbentuk ular melambangkan perlindungan dan kesuburan. Arang hitam mengindikasikan ritual pemulihan. Semua benda tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masa itu memandang lingkungan bukan sebagai sumber daya yang dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari sistem spiritual yang menjaga keberlangsungan hidup.
Baca Juga: Bencana Sumbar Diduga Dipicu Pembalakan Liar, Gubernur Mahyeldi Desak Evaluasi Tata Kelola Hutan!
Arkeolog Universitas Andalas, Faisal menguatkan dengan menarik perhatian pada penamaan Pasaman.
Menurutnya, nama ini kemungkinan berkaitan dengan istilah Sanskerta prasma atau prasaman yang bermakna ketenangan, persamaan, dan keselarasan. Leluhur Pasaman tampaknya ingin menandai identitas ruang hidup mereka sebagai wilayah yang tenang karena manusia dan alam berada dalam keseimbangan. Dalam pandangan masyarakat masa itu, hubungan baik dengan alam bukan pilihan, melainkan syarat bertahan hidup.
Sejarah Terlupakan
Arbi juga menekankan satu temuan yang kerap terlupakan dalam pembacaan sejarah. Prasasti Ganggu Hilia mencatat bahwa air di wilayah tersebut dapat diminum dan digunakan oleh manusia maupun hewan. Kalimat sederhana itu mencerminkan cara pandang masyarakat masa klasik. Air tidak boleh dikuasai atau diprivatisasi. Air adalah milik semua makhluk.
Taufik Wijaya, pekerja budaya dan jurnalis Mongabay Indonesia, menegaskan bahwa bukti kepurbakalaan dan bentang alam Pasaman sesungguhnya telah cukup untuk membaca jati diri peradaban daerah ini.
Menurutnya, sejarah Pasaman tidak dimulai kemarin atau ketika catatan kolonial muncul, melainkan telah berlangsung sejak setidaknya abad ke-12. Di sepanjang rentang waktu itu, proses akulturasi budaya tidak pernah berhenti, dari era Hindu–Buddha, pengaruh perdagangan antarbangsa, hingga masa modern. Pada masa lalu, Pasaman tercatat sebagai bagian dari jaringan niaga internasional yang menghubungkan berbagai pusat ekonomi di Nusantara dan kawasan luar.
Tag
Berita Terkait
-
Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatera
-
Sekda Padang Panjang: Banyak Warga Berdiam di Rumah Saat Banjir Bandang
-
Kondisi Terkini Jalan Nasional Lembah Anai Padang-Bukittinggi yang Putus Total
-
7 Warga Pasaman Barat Tertimbun Longsor, 1 Orang Selamat!
-
Rumah Warga Hanyut Terseret Luapan Batang Masang Pasaman Barat, 10 Kecamatan Diterjang Bencana!
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
CEK FAKTA: AS Larang Sertifikasi Halal di Indonesia, Benarkah?
-
4 Cara Sehatkan Bibir Walau Rutin Pakai Lipstik Matte, Perempuan Harus Tahu!
-
5 Lipstik Anak Muda Terbaru, Multifungsi dan Bikin Tampilan Segar
-
9 Lipstik Matte untuk Semua Warna Kulit, Teruji Tahan Lama
-
CEK FAKTA: Purbaya Naikkan Gaji Pensiunan 12 Persen dan Cair 30 Januari 2026, Benarkah?