Fenomena Sinkhole Situjuah Batua Terus Meluas, BPBD Limapuluh Kota Pasang Garis Polisi

Fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), masih menunjukkan pergerakan tanah hingga kini.

Riki Chandra
Selasa, 06 Januari 2026 | 17:21 WIB
Fenomena Sinkhole Situjuah Batua Terus Meluas, BPBD Limapuluh Kota Pasang Garis Polisi
Sejumlah warga melihat dari jauh fenomena sinkhole yang terjadi di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (6/1/2026). [Dok. Antara/Fandi Yogari]
Baca 10 detik
  •  Sinkhole Situjuah Batua masih bergerak, BPBD Limapuluh Kota pasang garis polisi pengaman.

  • Lubang sedalam 5,7 meter berpotensi membesar dan membahayakan warga.

  • Ahli geologi sebut sinkhole terkait kawasan batu kapur Situjua.

SuaraSumbar.id - Fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), masih menunjukkan pergerakan tanah hingga kini.

Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota meningkatkan kewaspadaan dengan memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi risiko yang lebih besar terhadap keselamatan warga.

Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Limapuluh Kota, Alexandra, mengatakan bahwa sinkhole di Situjuah Batua masih aktif mengalami perubahan struktur tanah.

Pergerakan tersebut berpotensi memperluas lubang yang terbentuk secara tiba-tiba di kawasan permukiman dan lahan pertanian masyarakat.

"Hingga saat ini pergerakan tanah masih terus terjadi dan hal ini telah diantisipasi memasang garis polisi di sekitar sinkhole," kata Alexandra, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, petugas telah melakukan pendataan awal di lokasi sinkhole Situjua Batua. Dari hasil pengukuran sementara, lubang yang terbentuk memiliki panjang sekitar 10 meter, lebar tujuh meter, dengan kedalaman mencapai 5,7 meter. Dimensi tersebut dinilai cukup berbahaya jika didekati tanpa pengamanan.

Pemasangan garis polisi atau police line dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan terburuk. Aparat kepolisian bersama pemerintah setempat mengkhawatirkan lubang tersebut dapat semakin membesar seiring pergerakan tanah yang belum berhenti. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam keselamatan warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.

"Kami terus mengimbau masyarakat untuk menjaga dan mematuhi peraturan, terutama tidak melewati garis polisi di sekitar tanah yang berlubang," katanya.

Sementara itu, ahli Geologi serta Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menjelaskan bahwa fenomena sinkhole Situjua Batua bukanlah kejadian yang berdiri sendiri.

Ia menyebut kejadian tanah tiba-tiba berlubang kerap ditemukan di kawasan batu kapur, termasuk wilayah Nagari Situjua Batua.

Menurut Ade, secara geologis kawasan tersebut merupakan daerah batu kapur yang tertutup material erupsi Gunung Sago. Lapisan tersebut membuat karakter batu kapur tidak tampak di permukaan, sehingga wilayah ini terlihat subur dan banyak dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian.

Ia menambahkan, batuan kapur memiliki sifat mudah larut apabila terus-menerus terpapar air hujan. Proses pelarutan tersebut memicu terbentuknya rongga di bawah permukaan tanah, yang lama-kelamaan dapat runtuh dan menciptakan lubang besar atau sinkhole.

Ade menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat segera mengambil langkah mitigasi dengan menutup atau menimbun lubang menggunakan material tanah, pasir, maupun batu. Setelah itu, pengecoran dinilai perlu dilakukan untuk mencegah kecelakaan di lokasi sinkhole Situjua Batua.

"Jadi, ini bukan fenomena baru di Situjuah. Masyarakat lokal kerap menyebutnya dengan istilah Sawah Luluih," ujarnya. (Antara)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak