Bayi Lahir Prematur Berpotensi Sumbang Kasus Stunting Terbesar, Ini Alasannya

Bayi yang lahir dengan kondisi prematur bisa menjadi potensial penyumbang stunting terbesar jika tidak ditangani dengan tepat.

Riki Chandra
Selasa, 26 Juli 2022 | 12:15 WIB
Bayi Lahir Prematur Berpotensi Sumbang Kasus Stunting Terbesar, Ini Alasannya
Ilustrasi stunting, tinggi badan anak. (Envato Elements)

Rina mengatakan bahwa stunting sebaiknya jangan dilihat dari tanda fisik, melainkan diidentifikasi melalui perkembangan grafik yang menyeluruh pada buku kesehatan ibu dan anak (KIA) atau buku KIA Khusus Bayi Kecil bagi BBLR. Sebab itu, Rina mengajak agar para orang tua dapat memahami bagaimana cara mengukur, menimbang, hingga membaca grafik yang tepat sehingga stunting bisa dicegah.

“Stunting itu bukan dilihat pakai mata, tapi harus dideteksi secara aktif. Jadi, apa boleh buat,” ujarnya.

Rina mengatakan stunting memiliki dampak yang berbahaya, salah satunya terkait dengan perkembangan kecerdasan intelektual (IQ). Mengingat hal tersebut, ia juga menekankan pentingnya orang tua bersama tenaga kesehatan melakukan pengukuran antropometri pada lingkar kepala.

Ia menambahkan bahwa periode hingga anak berusia dua tahun itu merupakan periode emas untuk pertumbuhan otak. Sebesar 83 persen dari total volume otak dewasa tumbuh di usia dua tahun, jelasnya.

Baca Juga:Ini Perbedaan Bayi Lahir Prematur dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah

Selain lingkar kepala, pengukuran juga diperlukan pada berat badan dan panjang badan sehingga tumbuh-kembang anak bisa optimal. Pengukuran tersebut harus mengikuti pedoman buku KIA.

“Kalau masih malas juga, sebenarnya ada yang namanya aplikasi Pradini. Untuk bayi cukup bulan ada Primaku. Itu sudah dimasukkan oleh Menteri Kesehatan, ibu-ibu bisa ikut aplikasi itu, masukkan (hasil pengukuran) kalau males bawa-bawa buku,” katanya. (Antara)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini