Hari ini, semua pekerjaan produksi Rendang Asese sudah tertata rapi. Eva tidak lagi turun ke dapur. Ia hanya memastikan kualitas rasa setiap kali memproduksi. Urusan lainnya, ada karyawan yang telah bekerja teratur sesuai jadwalnya.
"Rendang itu masaknya lama. Karyawan bekerja tiga shift sehari. Urusan dendeng lain lagi orangnya," katanya.
Dulu, produksi rendang Eva hanya 10 kilogram per hari. Kekinian, Rendang Asese harus memproduksi rendang 100 kilogram per hari. "Sejak 2014 penjualan naik dan Alhamdulillah terus bertahan. Itu yang menghidupi puluhan orang karyawan saya," kata Eva yang enggan menyebutkan nominal omzetnya per bulan.
Eva juga menjamin produksi usaha rendangnya higeinis dan berstandar internasional. Apalagi, Rendang Asese adalah usaha rendang pertama yang menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) di wilayah Sumbar.
"Usaha saya dapat sertifikat dari Kementerian Koperasi tahun 2014 lalu. Jadi soal higeinis sudah jelas berstandar internasional," katanya.
Penjualan Anjlok hingga Memilih TIKI
Produksi Rendang Asese sudah "terbang" hampir ke seluruh daerah dari Sabang sampai Merauke. Pelanggannya mayoritas di Jakarta dan pulau Jawa hingga Kalimantan hingga Papua. Sesekali dikirim ke luar negeri dalam jumlah yang tak banyak.
"Kalau untuk ekspor, saya belum berani. Ketahanan produk kemasan hanya 1 bulan, tapi sejatinya dua bulan. Penjualan ke luar negeri belum partai besar," katanya.
Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama tiga tahun sejak Maret 2020, tentu saja berdampak pada hampir seluruh pelaku UMKM di tanah air. Rendang Asese pun ikut terdampak. Omzetnya turun drastis karena sulitnya akses pengiriman ke pelanggan. Lebih-lebih saat pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Baca Juga: 555 Bencana Alam Terjang Wilayah Sumbar Selama 2023, Angin Kencang dan Tanah Longsor Mendominasi
"Permintaan rendang tetap tinggi, tapi menyalurkannya yang susah karena banyak penerbangan yang dibatalkan," katanya.
Saat Lebaran 2020 yang menjadi tahun pertama virus corona mewabah di Indonesia, Eva mengaku telah memproduksi stok seperti tahun-tahun sebelum wabah. Ternyata, perantau tidak bisa pulang kampung karena PSBB. Alhasil, mereka memesan dari rantau dan minta dikirimkan.
"Sekitar 6 bulan lamanya kerepotan. Alhamdulillah tidak rugi, tapi untung (omzet) yang menurun," ceritanya.
Eva tak menampik, kelancaran bisnis rendangnya tidak terlepas dari jasa kurir industri logistik. Sejatinya, ia sudah lama mengenal TIKI. Namun, baru penuh menggunakan jasa TIKI sejak pandemi Covid-19. Sebelumnya, ia memakai jasa kurir lainnya.
"Produksi usaha tidak akan sampai ke pelanggan tanpa jasa kurir. Saya pernah gunakan hampir semua jasa kurir, tapi sejak pandemi, saya putuskan pakai TIKI," katanya.
Menurut Eva, banyak penerbangan terbatas saat pandemi Covid-19. Layanan sejumlah jasa kurir yang biasa dipakainya pun terhambat dan tidak bisa memenuhi permintaan untuk pengiriman. Saat itulah datang TIKI dengan penawawan pasti. Mereka juga punya banyak jadwal penerbangan di tengah wabah corona.
Tag
Berita Terkait
-
Prabowo Pidato: Sejak Muda Aku Tak Pandai Omon-omon Kosong
-
Gibran ke Bali Disambut Spanduk 'Happy Holiday Ponakan Paman MK', TKD: Jogetin Aja
-
Usai Cerita Binatang Peliharaan, Prabowo: Ada Manusia Muka Tebal, Diberi Dukungan Dibalas Dengki
-
Keras! Prabowo soal Tanahnya Diungkit Anies: Daripada Dikuasai Asing
-
Disindir Banyak Punya Tanah, Prabowo: Dia Itu Pinter Apa Goblok Sih?
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Dengan QLola by BRI, Perusahaan Bisa Salurkan Gaji Karyawan Tanpa Harus Memproses Satu per Satu
-
Rp 1 Triliun per Tahun Putaran Uang Hasil Tambang Emas Ilegal di Sumbar, Toko Emas Ikut Disorot
-
4 Makanan Bantu Turunkan Kolesterol Jahat Secara Alami
-
Masyarakat Diingatkan Akan Bahaya Pencampuran Jeroan-Daging untuk Kesehatan
-
Kebakaran Dekat Kawasan Jam Gadang Bukittinggi Tewaskan Wanita Lansia