Kapan Radang Amandel Harus Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter

Radang amandel atau tonsilitis sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit ini bisa berdampak serius hingga membutuhkan tindakan operasi.

Riki Chandra
Kamis, 05 Juni 2025 | 11:27 WIB
Kapan Radang Amandel Harus Dioperasi? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi radang amandel. [Dok. Antara]

SuaraSumbar.id - Radang amandel atau tonsilitis sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit ini bisa berdampak serius hingga membutuhkan tindakan operasi.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Bedah Kepala dan Leher, Alexander Nur Ilhami, menegaskan bahwa tidak semua radang amandel harus dioperasi.

Namun, jika infeksi terjadi berulang dan mengganggu kualitas hidup pasien, maka tindakan operasi amandel bisa menjadi pilihan medis yang paling tepat.

"Jika infeksi terjadi berulang, misalnya lebih dari lima kali dalam setahun, atau tidak membaik meskipun sudah mendapatkan pengobatan, maka perlu dipertimbangkan tindakan operasi," ujar Alexander dalam keterangan resminya, Rabu (4/6/2025).

Menurut dokter yang berpraktik di Bethsaida Hospital Gading Serpong itu, radang amandel berulang dapat menjadi indikasi kuat untuk dilakukannya tonsilektomi atau pengangkatan amandel.

Terlebih lagi jika radang tersebut menimbulkan komplikasi seperti abses, gangguan napas, atau kesulitan menelan yang berkelanjutan.

Jangan Anggap Remeh

Radang amandel dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti flu, maupun bakteri seperti Streptococcus pyogenes.

Gejalanya biasanya berupa nyeri tenggorokan, kesulitan menelan, demam, batuk, dan pembengkakan pada amandel.

Dalam beberapa kasus, pembengkakan bisa menyebabkan gangguan napas, terutama saat tidur.

“Amandel merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Tapi jika terus-menerus terinfeksi, justru bisa menjadi sumber masalah,” terang dr Alexander.

Ia menekankan bahwa sebagian besar kasus radang amandel masih bisa ditangani secara konservatif, yakni melalui istirahat cukup, minum cairan yang banyak, pemberian obat pereda nyeri, hingga antibiotik bila diperlukan.

Namun bila infeksi sudah mengganggu aktivitas harian pasien secara signifikan, maka opsi operasi harus dipertimbangkan secara serius.

Masyarakat sering menganggap bahwa operasi amandel merupakan langkah pertama untuk menangani radang amandel.

Padahal, menurut dr Alexander, tindakan operasi hanya akan dipilih jika terapi obat tidak berhasil dan pasien mengalami kekambuhan berulang.

"Operasi bukan langkah pertama, tapi bisa menjadi solusi terbaik jika infeksi terus berulang dan mengganggu kualitas hidup pasien," tegasnya.

Saat ini, metode pengangkatan amandel cukup beragam, mulai dari teknik konvensional hingga penggunaan teknologi modern seperti coblation atau laser.

Pemilihan metode dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien dan pertimbangan medis menyeluruh.

Gejala yang Harus Diwaspadai

- Demam tinggi berkepanjangan
- Nyeri tenggorokan hebat
- Bau mulut yang tidak biasa
- Gangguan tidur akibat penyempitan saluran napas
- Sulit makan dan minum

Dalam kondisi tersebut, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis THT.

Pemeriksaan menyeluruh sangat penting untuk memastikan apakah pasien cukup ditangani dengan terapi konservatif atau perlu menjalani operasi amandel.

Penanganan radang amandel kronis tidak cukup hanya dengan mengobati gejala. Evaluasi rutin dan diagnosis yang akurat menjadi kunci utama.

Dokter Alexander mengingatkan bahwa pasien tidak boleh menunda pemeriksaan bila gejala terus berulang.

“Kunci penanganan radang amandel adalah diagnosis yang akurat dan evaluasi rutin gejalanya,” ujarnya.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat, terutama antibiotik, tanpa resep dokter.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menyebabkan resistensi bakteri dan memperburuk kondisi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, kasus radang amandel pada anak dan remaja meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi tinggi.

Pola makan, paparan debu, hingga gaya hidup turut menjadi faktor risiko yang memicu infeksi berulang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat peningkatan kasus tonsilitis akut di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi ini menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mengenali tanda bahaya dan segera mencari penanganan medis.

Radang amandel tidak selalu membutuhkan tindakan operasi, tetapi bila infeksi terjadi berulang, tidak merespon obat, atau menyebabkan komplikasi serius, maka operasi amandel adalah langkah yang layak dipertimbangkan.

Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap gejala yang dialami, rutin berkonsultasi dengan dokter spesialis, serta tidak menunda penanganan medis. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak