![Pertunjukan naga di halaman Kelenteng See Hin Kiong Padang sehari jelang perayaan Imlek, Sabtu (21/1/2023). [Suara.com/Riki Chandra]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/03/01/21453-naga.jpg)
Anggota DPRD Sumbar itu mengaku bangga melihat antusiasme ribuan orang yang hadir menyaksikan puncak perayaan Imlek. Menurutnya, Cap Go Meh sudah menjadi daya tarik wisata di Kota Padang yang mengundang decak kagum warga di luar Sumbar.
Albert menegaskan bahwa festival Cap Go Meh hanyalah pertunjukan budaya yang telah berbaur dengan kearifan lokal. Atas dasar itulah berbagai seni tradisi Tionghoa berkolaborasi dengan kebudayaan asli Minangkabau dalam sebuah pertunjukan massal. "Festival Cap Go Meh bukan tentang kepercayaan, tapi soal kebudayaan. Bagaimana kita di Sumbar yang bercampur dari berbagai etnis menyatu dalam keberagaman ini," katanya.
Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, komunitias Tionghoa yang menjadi bagian dari NKRI, ingin berkontribusi pula terhadap kemajuan daerah Kota Padang dan Sumbar. Dia meyakini Cap Go Meh akan menjadi daya tarik wisata baru bagu masyarakat karena 'menjual' keragaman kebudayaan dan sejarah.
"Kami ingin berkontribusi pula untuk daerah tempat kami tinggal lewat kemajemukan budaya ini. Semoga Cap Go Meh selanjutnya makin diminati," katanya.
Baca Juga:Kasus Curanmor di Padang, Hasil Curian Dijual ke Pertambangan dan Perkebunan
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldi mengaku bangga sekaligus mengapresiasi gelaran Cap Go Meh. Menurutnya, kebersamaan dan kolaborasi antara budaya Tinghoa dengan Minang dan etnis lainnya menjadi bukti bahwa Sumbar bukanlah provinsi yang intoleran.
"Ini bukti kita menjunjung tinggi Pancasila. Menghormati kemajemukan dan keberagaman," kata Audy dalam cuplikan video di media sosial pribadinya.
Audy juga menuliskan bahwa kebersamaan etnis dalam Cap Go Meh 2023 di Padang merupakan sebuah keindahan yang dimiliki Indonesia. "Negara ini lahir dari keberagaman, dipersatukan oleh takdir sejarah dan bersepakat untuk merdeka bersama dengan nilai-nilai Pancasila," tuturnya.
Rukun dan Menyatu dalam Keberagaman
Meski dinamakan Kampung Cina, kawasan Pondok ternyata tidak hanya ditempati orang-orang dari etnis Tionghoa. Di sana, ada pula pemukiman warga keturunan India yang bernama Kampuang Kaliang. Ada pula Kampung Nias, warga Batak, Jawa, Minangkabau dan sebagainya. Mereka tinggal berdampingan dan dengan kepercayaan masing-masing.
Baca Juga:Ungkap Kasus Curanmor di Padang, Polisi Amankan 20 Sepeda Motor dan Satu Unit Pikap
Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh semakin mempertegas bahwa keberadaan Tionghoa di Padang betul-betul sudah 'menyatu' dengan warga Minang. Semua terlihat dari kebersamaan mereka dalam menikmati beragam pesta atraksi budaya Cina yang ditampilkan sejak sebelum puncak perayaan Tahun Baru Imlek. "Pondok itu ditempati beragam suku dan agama. Tapi kami rukun dan damai dalam bingkai NKRI," kata Albert Hendra Lukman melanjutkan perbincangan.