Atraksi Budaya Tionghoa Padang Mewarnai Minangkabau, Toleransi Tak Sebatas Kata

Sehari jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2574/2023, kawasan Pondok di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), begitu memesona.

Riki Chandra
Rabu, 01 Maret 2023 | 21:14 WIB
Atraksi Budaya Tionghoa Padang Mewarnai Minangkabau, Toleransi Tak Sebatas Kata
Kelenteng See Hin Kiong di Padang saat dipadati warga sehari jelang perayaan Imlek, Sabtu (21/1/2023). [Suara.com/Riki Chandra]

Sejatinya, lelaki 61 tahun itu sudah pulang sejak pukul 17.00 WIB, seperti hari-hari biasanya. Namun, sejak 5 lima hari jelang perayaan Tahun Imlek 2574 yang jatuh pada hari Minggu (22/2/2023), ayah tujuh orang anak itu terpaksa bekerja hingga larut malam.

"Tugas saya di sini hanya bersih-bersih bagian dalam dan luar ruangan. Kalau untuk kebutuhan perapian berdoa, itu ada lagi petugasnya," katanya.

Ramli berdarah campuran Nias dan Tionghoa. Ia memeluk agama Islam dan fasih berbahasa Minang. Menurutnya, hampir setiap waktu orang-orang warga Minang di Padang, maupun luar Padang datang berkunjung ke kelenteng. Mereka datang untuk berswafoto di area kelenteng.

"Kalau mau Imlek itu ramai sekali. Semuanya berbaur. Tidak ada yang membeda-bedakan. Saya pun pekerja Muslim di sini juga diperlakukan baik oleh pengurus kelenteng," katanya.

Baca Juga:Kasus Curanmor di Padang, Hasil Curian Dijual ke Pertambangan dan Perkebunan

Sekitar pukul 20.15 WIB, Kelenteng See Hin Kiong makin sesak pengunjung. Ratusan orang berdesak-desakan berdiri hingga ke pagar. Tak sedikit pula yang rela duduk di atas pagar kelenteng demi menyaksikan ragam pertunjukan kesenian khas Tionghoa. Sorak-sorai kebahagiaan menggema dari dalam kelenteng.

Pertunjukan barongsai di halaman Kelenteng See Hin Kiong Padang sehari jelang perayaan Imlek, Sabtu (21/1/2023). [Suara.com/Riki Chandra]
Pertunjukan barongsai di halaman Kelenteng See Hin Kiong Padang sehari jelang perayaan Imlek, Sabtu (21/1/2023). [Suara.com/Riki Chandra]

Dari pantauan SuaraSumbar.id, mereka yang berdesakan di dalam kelenteng berasal dari berbagai etnis dan agama. Semua terlihat dari warna kulit hingga pakaian yang digunakan. Selain warga etnis Tionghoa, perempuan-perempuan berjilbab juga meramaikan pesta menyambut Tahun Baru Imlek itu.

Menariknya, ciloteh dari sudut ke sudut kelenteng tetap berbahasa Minang. Hanya sesekali terdengar percakapan berbahasa Cina ketika warga keturunan itu mengobrol sesama mereka.

Sebuah tarian tradisi Cina mengiring kemeriahan malam itu. Tarian itu dibawakan oleh 4 perempuan cantik berpakaian khas Tionghoa. Mereka menari menggunakan selendang di tengah anak-anak dan orang dewasa yang mengitarinya. Momentum keakraban antar etnis betul-betul terasa dalam pertunjukan kesenian itu. Di tengah antusiasme masyarakat, banyak juga yang sibuk mengabadikan momen lewat telepon pintar.

Setelahnya, satu persatu barongsai hingga pertunjukan naga muncul menghibur pengunjung. Barongsai merupakan tarian tradisional asal Cina menggunakan sarung menyerupai singa yang sudah dikenal luas masyarakat dunia. Paling tidak, ada tiga kali atraksi berlangsung dengan warna barongsai berbeda hingga 22.35 WIB malam itu.

Baca Juga:Ungkap Kasus Curanmor di Padang, Polisi Amankan 20 Sepeda Motor dan Satu Unit Pikap

Di tengah keriuhan pesta atraksi budaya Tionghoa, pengunjung bernama Wulan Novita mengerang kesakitan. Ibu jari kakinya tertimpa papan karangan bunga yang berjejer di bagian luar pagar Kelenteng See Hin Kiong. Semua terjadi lantaran sebagian pengunjung berdesakan naik ke atas pagar hingga menyenggol papan karangan bunga sampai terjatuh.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini