"Pertama melihat barongsai, kuku kaki saya copot. Tapi tahun depan saya akan lihat lagi," katanya seminggu setelah kejadian dan menjalani operasi ringan.
Cap Go Meh Berbaur dengan Kearifan Lokal
Dalam catatan sejarah, kemeriahan Imlek dan kebebasan perayaan Cap Go Meh di Tanah Air tidak terlepas dari peran Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dijuluki "Bapak Tionghoa Indonesia". Dialah tokoh yang menyelesaikan konflik diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di republik ini.
Lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur memberikan kebebasan etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka. Setelahnya, di tahun 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menjadikan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional hingga saat ini.
Baca Juga:Kasus Curanmor di Padang, Hasil Curian Dijual ke Pertambangan dan Perkebunan
Warga Tionghoa biasanya membersihkan rumah-rumah mereka saat menyambut Imlek. Kemudian, mereka berziarah ke makam orang tua yang telah meninggal hingga menyambangi rumah kerabat dan kawan lama. Hakikat Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa merupakan silaturahmi yang menandai pergantian musim di tahun Lunar. Mereka juga berkumpul bersama keluarga besar hingga berharap kehidupan kian membaik dari tahun-tahun sebelumnya.
Puncak perayaan Imlek diakhiri dengan Festival Cap Go Meh pada hari Minggu (5/2/2023). Pesta keberagaman ini menjadi kejutan bagi masyarakat Sumbar, khususnya di Kota Padang. Pasalnya, ini kali pertama Cap Go Meh kembali digelar meriah setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020 silam.
"Festival Cap Go Meh ini perdana digelar kembali setelah pandemi Covid-19. Saya senang sekali menyaksikan antusiasme masyarakat," kata tokoh Tionghoa Sumbar, Albert Hendra Lukman kepada SuaraSumbar.id, Senin (27/2/2023).
Penasehat Panitia Festival Cap Go Meh 2023 itu mengatakan, festival bertema "Cap Go Meh adalah Kita" itu, tidak saja mengeksplor kebudayaan Tionghoa. Beragam seni tradisi Nusantara juga disajikan dalam pertunjukan yang melibatkan sekitar 3.000 orang itu. Ada Fire Dance dari Bali, Reog Singo Budoyo dari Dharmasyara, hingga pertunjukan randai khas Minangkabau.
Seluruh komunitas Tionghoa di Padang ambil bagian dalam kegiatan kebudayaan itu. Mulai dari perkumpulan sosial Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT), PSKP Santo Yusuf hingga Ji Se atau sembilan perkumpulan, ambil bagian dalam festival Cap Go Meh. Puncak atraksinya adalah pertunjukan arak-arakan sipasan dari Jembatan Siti Nurbaya hingga ke Kota Tua. Semua atraksinya sukses terselenggara.
Baca Juga:Ungkap Kasus Curanmor di Padang, Polisi Amankan 20 Sepeda Motor dan Satu Unit Pikap
"Festival Cap Go Meh ini merupakan salah satu iven yang tercatat dalam kalender wisata Sumbar. Kegiatannya berlangsung berkat kerjasama dengan Pemprov Sumbar," katanya.