Menikmati Kelincahan Para Pandeka Minangkabau 'Beradu' di Galanggang Silek Tradisi

Orang-orang berbaju serba hitam meramaikan Agam Jua Art and Culture Cafe yang menghadirkan nuansa mistis. Suara suling sahut-menyahut menyejukkan telinga.

Riki Chandra
Selasa, 14 Juni 2022 | 17:17 WIB
Menikmati Kelincahan Para Pandeka Minangkabau 'Beradu' di Galanggang Silek Tradisi
Tuo silek menampilkan silek di Galanggang Silek di Payakumbuh. [Dok.Istimewa]

SuaraSumbar.id - Penampilan para tuo silek dari puluhan perguruan silek di Ranah Minang memukau gelaran Galanggang Silek Tradisi yang berlangsung di Agam Jua Cafe, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar) sejak Sabtu hingga Senin (13/6/2022).

Orang-orang berbaju serba hitam meramaikan Agam Jua Art and Culture Cafe yang menghadirkan nuansa mistis. Suara suling sahut-menyahut menyejukkan telinga.

Orang-orang berbaju serba hitam itu merupakan para pandeka (pendekar) dan anak sasian-nya (para murid). Mereka berasal dari sekitar 16 sasaran silek yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar.

Ada sasaran yang memperagakan berbagai atraksi yang jadi ciri khas sasaran-nya. Sebagian lagi, datang untuk mambantang nan talipek (membentangkan segala yang selama ini terlipat di sasaran masing-masing) ke tengah khalayak ramai. Ada pula yang mempertunjukkan silek tradisi lebih ke sisi fisik, sebagian lagi memperkenalkan silek lebih ke olah batin.

Baca Juga:Galanggang Silek Tradisi, Jalan Mengembalikan Identitas Budaya Minangkabau

Sasaran dari Balubuih dari kabupaten Limapuluh Kota beraliran Kumango. Para pandeka-nya mempertunjukkan eratnya hubungan silek dengan surau, tasawuf hingga tarekat.

Pengunjung tidak hanya diperlihatkan bagaimana adat berguru. Namun, bagaimana silek itu sendiri merupakan jalan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, seperti nazam yang dibacakan sesaat jelang pandeka dari Balubuih menampilkan pertunjukkan; "zahia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan".

Dengan gerak lambat namun intens, dua pandeka berbusana serba hitam memperagakan proses latihan di sasaran Silek Kumango Balubuih tampak seperti sedang bertarung dengan diri sendiri. Sasaran silek ini memang lebih ke 'silek bathin' ketimbang silek fisik. Hanya 25 persen dari ilmu silek Kumango Balubuih itu berisi ajaran silek fisik, selebihnya silek bathin.

Begitu juga dengan Sasaran Silek Pangian Rantau Batanghari dari Dharmasraya yang tampil di malam kedua. Aliran silek ini juga lebih menekankan silek bathin.

Dalam sejarah Minangkabau, silek dan surau pernah menjadi salah satu unsur subversif bagi tatanan kolonial. Di masa penjajahan itu, banyak sasaran silek yang terlibat langsung dalam beberapa pemberontakan. Banyak tuo silek (guru silek sekaligus guru tarekat) yang ditangkap, banyak sasaran yang ditutup paksa.

Baca Juga:Membumikan Silek Minangkabau di Sekolah, Sinergitas Surau dan Sasaran Perlu Diperkuat

Silek kemudian dilarang oleh pemerintah kolonial. Sebagian tuo silek yang tersisa berusaha mewariskan ilmunya secara lebih hati-hati, bahkan sembunyi-sembunyi.

REKOMENDASI

News

Terkini