Bangkit di Tengah Pandemi, Tenun Padi Sarumpun dari Solok Jelajah Nusantara dengan JNE

Hampir seluruh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia "babak belur" dihantam pandemi Covid-19.

Riki Chandra
Rabu, 05 Januari 2022 | 08:15 WIB
Bangkit di Tengah Pandemi, Tenun Padi Sarumpun dari Solok Jelajah Nusantara dengan JNE
Anak (kiri) dan adik Zartidewita, pemilik usaha "Tenun Padi Sarumpun" di Kabupaten Solok saat menenun. [Dok.Istimewa]

SuaraSumbar.id - Hampir seluruh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia "babak belur" dihantam pandemi Covid-19. Banyak yang terpaksa gulung tikar karena anjloknya omzet, hingga tak lagi mampu membayar pekerja. Kondisi ini telah berlangsung sekitar dua tahun atau sejak wabah virus corona mengisolasi semua pergerakan masyarakat.

Data survei Bank Indonesia pertengahan tahun 2021 lalu mengungkapkan, sebanyak 87,5 persen dari sekitar 64,2 juta UMKM di Indonesia terdampak pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 93,2 persen di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan.

Realita tersebut membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) bergerak cepat mendorong agar pilar penting perekonomian bangsa itu, kembali bergerak dan keluar dari krisis pandemi. Dia tak ingin UMKM terus-terusan lesu di tengah wabah. Berbagai program bantuan pun digulirkan agar pelaku usaha terus menggeliat.

Kekinian, sejumlah pelaku UMKM mulai beringsut bangkit. Pelan-pelan, mereka kembali mulai menata usahanya yang lesu akibat pandemi. "Semangat bangkit ini harus lahir dari diri sendiri. Kalau larut dengan kondisi, bisa-bisa usaha kita nggak jalan-jalan, apalagi sekarang masih belum stabil dari Covid-19," kata Zartidewita, salah seorang pelaku UMKM di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), kepada Suara.com, jelang Malam Tahun Baru 2022 lalu.

Baca Juga:Rayakan HUT Ke-31, JNE Yogyakarta Touring Sambil Berkegiatan Sosial

Perempuan 44 tahun itu merupakan pemilik usaha "Tenun Padi Sarumpun" yang beralamat di Jorong Kampuang Ateh, Nagari Sungai Jambur, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok. Sudah 12 tahun lamanya Zartidewita bergelut dengan bisnis penjualan dasar kain tenun khas Solok itu.

"Saya mulai merintis tahun 2009 lalu. Alhamdulillah sampai kini bertahan, meski omzet memang jauh merosot sejak pandemi Covid-19 muncul tahun 2020 lalu," kata perempuan yang akrab disapa Dewi itu.

Dewi mengisahkan perjalanan panjang usaha tenunnya hingga "dilumpuhkan" pandemi Covid-19. Dia mengaku tak pernah menyangka bakal menjadi seorang pelaku UMKM, bahkan usaha tenunnya menjadi yang pertama di Kabupaten Solok.

Semua berawal ketika Dewi belajar menenun kain kepada seorang rekannya yang berasal dari Kota Sawahlunto, selama sekitar satu minggu. Dewi belajar hingga akhirnya bisa menenun kain untuk dirinya sendiri. "Seminggu belajar saya sudah bikin sendiri. Nah, saya mulai ajarkan adik-adik. Saya bukan dari keluarga penenun," katanya.

Dewi ternyata kecanduan menenun. Dia memberanikan diri membeli 3 unit alat tenun, tak lama setelah mengajarkan adik-adik dan sejumlah warga di kampungnya menenun. Lantas, karena ingin fokus memulai usaha tenun, Dewi yang saat itu bertatus sebagai perangkat nagari (desa adat) memutuskan mundur.

Baca Juga:Lowongan Kerja JNE Deadline 31 Desember 2021, Lulusan SMA/SMK Merapat!

"Modal awalnya itu sekitar 15 jutaan. Saya ajarkan adik-adik, kawan-kawan sekitar rumah. Sekitar tahun 2010, saya bisa kumpulkan anggota menenun 20 orang dan itu terjaga sampai saat ini," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini