Bangkit di Tengah Pandemi, Tenun Padi Sarumpun dari Solok Jelajah Nusantara dengan JNE

Hampir seluruh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia "babak belur" dihantam pandemi Covid-19.

Riki Chandra
Rabu, 05 Januari 2022 | 08:15 WIB
Bangkit di Tengah Pandemi, Tenun Padi Sarumpun dari Solok Jelajah Nusantara dengan JNE
Anak (kiri) dan adik Zartidewita, pemilik usaha "Tenun Padi Sarumpun" di Kabupaten Solok saat menenun. [Dok.Istimewa]

Seiring berjalan waktu, pasaran hasil tenunan ibu tiga anak itu mulai diminati banyak orang. Setidaknya dalam sepekan, usaha Tenun Padi Sarumpun paling sedikit memproduksi 20 helai dasar kain.

"Sejak mulai dikenal, sekitar tahun 2014, usaha saya pun dapat perhatian pemerintah daerah. Banyak pelatihan-pelatihan yang kam berikan. Selain itu, Pemda juga kerap memesan kain tenunan saya," katanya.

Motif kain tenunan produksi Tenun Padi Sarumpun beragam. Menariknya, semua nama motifnya diambil dari potensi ikon Kabupaten Solok. Seperti motif padi sarumpun yang melambangkan bahwa Solok adalah penghasil beras ternama. Ada juga motif markisa babijo ameh, markisa solok dan siriang bungo lobak.

"Tenun saya khas Solok. Makanya nama motifnya diambil dari nama semua ikon daerah," katanya.

Baca Juga:Rayakan HUT Ke-31, JNE Yogyakarta Touring Sambil Berkegiatan Sosial

Produksi tenunan Dewi berupa sarung songket, baju songket dan selendang songket. Harganya beragam, tergantung motif dan bahan benang yang ditenun. Paling mahal Rp 2,5 juta untuk paket satu helai sarung plus satu selendang. Sedangkan harga biasa dibanderol Rp 500 ribu dengan paket songket selendang jambul (sarung plus selendang). Ada juga untuk dasar baju dan rok yang harganya mulai Rp 350 ribu.

Omzet Turun Drastis

Selain penjualan tingkat lokal di Sumbar, hasil tenunan Dewi ternyata sudah merambah pasar Nusantara. Nyaris pesanan telah datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Mulai dari Riau, Batam, Jambi, Kalimantan, Jakarta, dan sebagainya. Bahkan, kain tenunnya juga sudah terbang ke Malaysia.

Pemasaran di luar Sumbar itu tak lepas dari promosi Dewi yang memanfaatkan berbagai platform media sosial, disamping juga dipromosikan pemerintah daerah Kabupaten Solok di berbagai ajang pameran dan sebagainya. "Alhamdulillah, pemasaran tenun saya sudah terbang kemana-mana. Pesannya macam-macam. Ada yang dari butik, ada per orangan untuk seragam resepsi pernikahan dan lain-lain," ceritanya.

Laju pemasaran tenun Dewi nyaris tak berhenti sejak 10 tahun terakhir. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu merubah segalanya. Pesanan kain Tenun Padi Sarumpun turun drastis. Kondisi ini tentu saja tidak hanya dirasakan Dewi, namun juga puluhan juta pelaku usaha lainnya. Beruntung, usaha yang dirintisnya dari nol itu tak sampai gulung tikar.

Baca Juga:Lowongan Kerja JNE Deadline 31 Desember 2021, Lulusan SMA/SMK Merapat!

Saking merosotnya, penjualan Dewi pernah hanya mencapai Rp 2 juta per bulan. Padahal biasanya, omzet usahanya berada di kisaran Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan. "Omzet sempat hancur-hancuran. Mana ada orang pesan kain, resepsi nikah dibatasi, kegiatan-kegiatan luar ruangan diatur dan sebagainya," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini