SuaraSumbar.id - Women Crisis Center (WCC) Nurani Perempuan dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menyoroti putusan Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Padang yang memvonis bebas terdakwa kasus pencabulan anak di bawah umur. Putusan tersebut dinilai telah mencoreng keadilan dengan logika hukum yang salah.
Diketahui, putusan tersebut dibacakan dalam sidang yang di gelar pada tanggal 8 Juni 2022. Sidang itu dipimpin oleh Hakim Ketua, Ferry Hardiansyah, dengan dua hakim anggota yakni Arifin Sani dan Egi Novita.
Terdakwa merupakan pelaku pelecehan seksual terhadap dua orang anak. Terdakwa yang sudah ditahan sejak 7 September 2021 pada akhirnya dibebaskan atas pertimbangan hakim yang mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak terbukti bersalah.
Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun telah menghadirkan dua orang saksi ahli yaitu dokter dan psikolog, serta tiga saksi lainnya yang kesemuanya disumpah sebelum memberikan keterangan dalam persidangan.
Namun dalam pertimbangannya, majelis hakim menolak semua keterangan korban dan keterangan saksi serta keterangan saksi ahli yang dihadirkan oleh JPU dengan menggunakan logika hukum yang sesat sebagaimana tertuang dalam salinan putusan pidana nomor 34/Pid.Sus/2022/PN Pdg.
Direktur WCC Nurani Perempuan, Rahmi Meri Yenti menyayangkan putusan hakim yang membebaskan terdakwa tersebut. Selama mendampingi kasus-kasus kekerasan seksual, ini adalah kali pertama hakim memutus bebas terdakwa dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
"Sepanjang 5 tahun terakhir, putusan ini adalah sejarah buruk peradilan di Sumatera Barat terutama untuk kasus pelecehan seksual terhadap anak," katanya, Jumat (24/6/2022).
Selama ini, kata Rahmi, negara berusaha menghadirkan berbagai kebijakan yang berpihak bagi korban kekerasan seksual. Bahkan tahun ini, Presiden Jokowi sudah mensahkan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual nomor 12 tahun 2022.
"Namun pada faktanya korban masih sulit untuk mendapatkan keadilan, sehingga hak-hak korban tetap tidak terpenuhi," tuturnya.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual Anak Tinggi, Nurani Perempuan Sebut Pemko Padang Abai Perhatian
Sementara Advokat Publik LBH Padang, Decthree Ranti Putri menyampaikan bahwa putusan bebas ini merupakan plot twist setelah UU TPKS disahkan. Majelis hakim telah mencatat sejarah buruk dalam penegakan hukum kasus kekerasan seksual di Pengadilan Negeri Padang.
Menurutnya, dalam UU TPKS jelas menyebutkan keterangan saksi atau korban cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah jika disertai dengan satu alat bukti sah lainnya, tetapi malah terbalik.
"Bagaimana mungkin majelis hakim menerima keterangan saksi sedarah dengan terdakwa yang jelas bertentangan dengan Pasal 168 KUHAP dan menolak keterangan korban, saksi dan juga ahli. Kemudian berdalih dengan tidak ada satu alat buktipun yang dapat membuktikan bahwa terdakwa bersalah telah melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap anak," katanya.
Ditambahkannya, perspektif hakim harus diperbaiki mengenai pemahaman tindakan pelecehan seksual, bahwasannya kekerasan seksual tidak melulu meninggalkan bekas luka secara fisik yang terlihat oleh mata, bekas luka yang pasti terjadi adalah bekas luka psikis dan ini hanya mampu dijelaskan oleh ahli psikolog yang keterangannya telah di tolak oleh Majelis Hakim dalam perkara ini.
"Oleh karena itu, WCC Nurani Perempuan bersama LBH Padang meminta dan mendesak agar Mahkamah Agung (MA) dapat menerima kasasi JPU dan mencabut putusan lepas serta menjatuhkan hukuman kepada terdakwa. Bersama ini, kami juga melaporkan majelis hakim dalam perkara ini untuk diperiksa mengenai integritasnya, karna putusan ini sarat akan logika yang salah tentunya menjadi tanda tanya serta kecurigaan yang besar," katanya.
Kontributor : B Rahmat
Berita Terkait
-
Konflik Warga dan Perusahaan di Pasbar Memanas, LBH Padang Desak Polda Sumbar Turun Tangan
-
Ribuan Hektare Lahan Warga Sumbar Dirampas, LBH Padang Desak Gubernur Turun Tangan
-
Dipanggil Polda Sumbar Soal Dugaan Ujaran Kebencian, LBH Padang Bingung
-
Mantan Direktur LBH Padang Raih SK Trimurti Award 2021
-
Heboh Mahasiswi Dilarikan Dukun di Pesisir Selatan, Nurani Perempuan Kritik Pihak Kampus
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Sungai Lubuak Lakuak Meluap, Banjir Bandang Rendam Empat Jorong di Pandai Sikek
-
Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Kafe Karaoke-Kedai Tuak, Sejumlah Barang Bukti Disita
-
Kinerja Solid dan Inovasi Digital Antar BRI Raih 4 Penghargaan Bergengsi
-
Ini Makanan Kaya Serat yang Bantu Turunkan Kolesterol
-
Bareskrim Tetapkan 20 Koperasi Jadi Tersangka Karhutla