Riki Chandra
Harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) yang diberi nama Corina berada di kandang habituasi saat proses pelepasliaran, di kawasan hutan alam Semenanjung Kampar, Provinsi Riau, Sabtu (19/12/2020). [ANTARA FOTO/FB Anggoro]

SuaraSumbar.id - Pasca kemunculan Harimau Sumatera, warga Maua Hilia, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), takut bekerja ke kebun sawit. Mereka tak berani memanen sawit dan buah pinang di sekitar lokasi kemunculan harimau.

Diketahui, Harimau Sumatera dikabarkan kerap muncul di kawasan tersebut sejak seminggu belakangan. "Saya dan warga lainnya tidak pernah ke kebun semenjak harimau memangsa dua ekor sapi," kata Rano (38), salah seorang warga setempat, Jumat (10/12/2021).

Atas kondisi itu, warga membiarkan buah pinang dan tandan buah segar kelapa sawit sudah masak. "Pohon pinang ada sekitar 800 batang dan kelapa sawit 570 batang yang tidak dipanen," katanya.

Akibat kondisi itu, pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp3 juta untuk tandan buah segar kelapa sawit, karena harga Rp2.500 per kilogram.

Baca Juga: Gajah Betina Mati di Kebun Sawit Riau, Diduga Gegara Tersengat Listrik

Sedangkan produksi tandan buah segar kelapa sawit sekitar 1,6 ton per panen. "Untuk buah pinang, bisa kami kumpulkan beberapa hari ke depan," katanya.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra mengimbau warga untuk bersama-sama ke kebun dalam memanen dan mengandangkan ternak.

"Warga agar tidak terpancing dengan isu tidak benar seperti, sering ditemukan harimau dan mahkluk lainnya," katanya.

Ia menambahkan, Resor KSDA Agam sudah dua kali melakukan penanganan konflik manusia dengan satwa ini. Penanganan pertama pada 1-4 Desember 2021 dan jejak satwa tidak ditemukan, sehingga dihentikan.

Setelah itu, harimau kembali muncul dengan mengejar lima sapi milik Doni (18) dan Zara (35) pada Senin (6/12) pagi, sehingga Tim KSDA Agam kembali melakukan penanganan berupa memasang kamera jebak dan meningkatkan penghalauan dengan cara bunyi-buyian.

Baca Juga: Bangkai Babi Hutan Mati Mendadak di Agam Diperiksa

"Kamera jebak tidak mendapat gambar visual dan jejak kaki harimau yang baru tidak ditemukan, sehingga penanganan konflik kita hentikan," katanya. (Antara)

Komentar