-
Warga Agam tetap bersilaturahmi meski jalur rusak akibat banjir bandang.
-
Akses terhambat, jembatan putus, perjalanan Lebaran jadi lebih sulit.
-
Tradisi manambang tetap berjalan di tengah pemulihan pascabencana.
SuaraSumbar.id - Warga Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), tetap menjalankan tradisi Lebaran 2026 meski harus menghadapi dampak banjir bandang Agam yang belum sepenuhnya pulih.
Di tengah tumpukan material batu dan jalan rusak, masyarakat berupaya menjaga silaturahmi dengan keluarga pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam suasana Lebaran tahun ini, kondisi banjir bandang Agam masih menyisakan tantangan besar bagi warga. Sejumlah ruas jalan dipenuhi bebatuan dan sisa material banjir, memaksa masyarakat mencari jalur alternatif demi mencapai rumah kerabat. Tradisi silaturahmi tetap dijaga meski perjalanan menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama.
Warnida, salah seorang warga, mengaku memilih jalur alternatif berupa jalan kecil yang dipenuhi bebatuan di sisi kiri dan kanan demi mempercepat perjalanan ke rumah keluarga suaminya. Namun, kondisi banjir bandang Agam membuat rencana tersebut tidak berjalan mulus.
Ia bersama keluarga terpaksa berbalik arah setelah mendapati genangan air cukup dalam dan memanjang di tengah jalur tersebut. Dalam perjalanan itu, anaknya harus menggendong bayi, sehingga mereka memutuskan kembali ke jalur utama meski waktu tempuh menjadi lebih lama.
Ia juga menyebutkan bahwa jembatan kecil di sekitar rumahnya telah terputus akibat dampak bencana, membuat akses menuju rumah saudara semakin menantang. Meski begitu, semangat silaturahmi tetap dijaga di tengah proses pemulihan pascabencana.
“Rencana mau ke rumah keluarga. Bagaimana pun dalam keadaan seperti ini, kami tetap melihat sanak saudara, meski suasana sedikit kurang semangat karena keadaan kayak gini. Semoga bisa seperti yang dulu dulu lagi,” katanya, Sabtu (21/3/2026).
Ruas jalan yang dilalui Warnida tidak jauh dari aliran sungai yang dipenuhi material batuan besar akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
Di lokasi lain, dua perempuan muda terlihat menggendong balita saat melintasi jembatan kayu sederhana dan menyusuri tepian sungai untuk mencapai rumah kerabat mereka.
Di tengah kondisi tersebut, tradisi Lebaran tetap berlangsung. Sejumlah anak usia sekolah dasar terlihat mengumpulkan uang pecahan baru ke dalam tas dan saku mereka.
Tradisi “manambang” masih dilakukan, di mana anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah untuk mendapatkan Tabungan Hari Raya (THR).
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, dampak banjir bandang Agam menyebabkan dua unit rumah hanyut dan hilang di Nagari Maninjau. Selain itu, sebanyak 115 unit bangunan mengalami kerusakan, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp44,8 miliar.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan akibat banjir bandang Agam, masyarakat tetap mempertahankan tradisi silaturahmi Lebaran sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial mereka. (Antara)