Cuaca Ekstrem Ancam Sumbar Saat Ramadan, Ini Peringatan BMKG!

Provinsi Sumatera Barat memiliki tipe ekuatorial yang menyebabkan puncak musim hujan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Maret dan November 2025.

Riki Chandra
Selasa, 04 Maret 2025 | 17:38 WIB
Cuaca Ekstrem Ancam Sumbar Saat Ramadan, Ini Peringatan BMKG!
Ilustrasi hujan lebat. [Pixabay]

SuaraSumbar.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama puncak musim hujan di Ranah Minang.

"Pada bulan Maret ini, bertepatan dengan umat Muslim menjalankan ibadah puasa, ada kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai," ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, Selasa (4/3/2025).

Menurut Deddy, secara klimatologi, Provinsi Sumatera Barat memiliki tipe ekuatorial yang menyebabkan puncak musim hujan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Maret dan November 2025.

Beberapa daerah, seperti Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, telah mengalami banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan pada Kamis (27/2/2025).

Data dari BMKG menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, curah hujan di beberapa wilayah Sumatera Barat, termasuk Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Dharmasraya, telah mencapai kategori ekstrem dengan intensitas di atas 100 milimeter. Fenomena ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.

Secara dinamika atmosfer, Sumbar tergolong daerah dengan kondisi cuaca yang sangat dinamis. Hal ini disebabkan oleh adanya belokan atau konvergensi angin yang memicu pertumbuhan awan konvektif dan awan cumulonimbus. Keberadaan awan cumulonimbus berpotensi menyebabkan hujan lebat, angin puting beliung, petir, hingga hujan es.

"Awan cumulonimbus ini dapat menciptakan hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem, disertai dengan potensi angin puting beliung, petir, dan hujan es yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat," jelasnya.

Deddy juga menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Pasalnya, cuaca ekstrem dapat memicu bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Selain itu, pada periode Maret-April, Sumatera Barat memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau atau dikenal dengan pancaroba, yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan tidak menentu.

"Saat peralihan musim atau pancaroba, kondisi atmosfer menjadi lebih dinamis, sehingga masyarakat diimbau tetap waspada terhadap risiko bencana maupun berbagai penyakit yang mungkin muncul akibat perubahan cuaca," katanya.

Peringatan dari BMKG dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem dan dampaknya, serta selalu mengikuti informasi terbaru mengenai kondisi cuaca di wilayah masing-masing. (antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak