Atraksi Budaya Tionghoa Padang Mewarnai Minangkabau, Toleransi Tak Sebatas Kata

Sehari jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2574/2023, kawasan Pondok di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), begitu memesona.

Riki Chandra
Rabu, 01 Maret 2023 | 21:14 WIB
Atraksi Budaya Tionghoa Padang Mewarnai Minangkabau, Toleransi Tak Sebatas Kata
Kelenteng See Hin Kiong di Padang saat dipadati warga sehari jelang perayaan Imlek, Sabtu (21/1/2023). [Suara.com/Riki Chandra]

Dari data yang diketahui Albert, warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Kota Padang hingga kini mencapai 15 ribu jiwa lebih. Jika ditotal seluruhnya dari Bukittinggi, Padang Panjang, Sawahlunto dan Payakumbuh, jumlah hanya berkisar hingga 17 ribu jiwa. Sebab, mayoritasnya tinggal di Padang. "Kami berharap kerukunan terus terjaga sampai kapan pun," katanya.

Guru besar sejarah Universitas Andalas (Unand), Gusti Asnan mengatakan, kebersamaan Tionghoa dengan etnis Minangkabau di Padang sudah terjalin sejak lama. Menurutnya, perayaan Imlek di awal abad ke-20 sudah lumrah digelar di Ranah Minang. Hal itu juga menandakan bahwa Minangkabau sudah sangat toleransi sejak dahulu kala.

"Akar historis mulai akrabnya berbagai etnis di Minangkabau itu sudah ada sejak 1830. Malah di 1820 dulu sudah ada etnis Nias yang menjadi penjaga kota zaman Belanda, Burgewagh namanya," katanya, Senin (27/2/2023).

Sejarawan itu memperkirakan Cina datang ke Padang sekitar abad ke-17. Saat itu, etnis Cina yang merupakan pedagang dibawa oleh Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), sebuah kongsi dagang terbesar asal Belanda yang menguasai Asia di abad itu. Menurutnya, awal keakraban itu terjadi memang ketika Padang dijadikan Belanda sebagai jalur perdagangan internasional.

Baca Juga:Kasus Curanmor di Padang, Hasil Curian Dijual ke Pertambangan dan Perkebunan

"Setiap kunjungan pejabat ke Padang, tokoh-tokoh Cina, Jawa, Minang dan etnis lain diundang. Mereka berbaur dan hubungan saat itu sudah cair. Sekitar tahun 1850 hingga 1860-an, sudah lazim kebersamaan antar tokoh etnis di Padang," katanya.

Sejak dulunya, kata Gusti, masyarakat kawasan pantai di Padang sangat terbuka dan toleran terhadap etnis pendatang. Ketika Belanda berkuasa, mereka pun diberikan pemukiman dengan nama etnis masing-masing. Makanya di Padang ada Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung Jawa hingga Kampung Nias. Setelah abad ke-20, mulailah datang etnis Batak hingga Mentawai.

"Kebersamaan ragam etnis di Padang sejak dulu selalu terjaga. Ini yang perlu dirawat untuk generasi selanjutnya," katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumbar, Prof. Duski Samad mengatakan, bahwa kemeriahan atraksi budaya Tionghoa di Kota Padang bukan pertunjukan baru. Menurutnya, kebersamaan masyarakat Minang, umat Islam khususnya, dalam menyaksikan pesta budaya tersebut sudah berlangsung sejak lama. Dia pun tak heran jika warga berbeda agama sama-sama antusias melihat pertunjukan barongsai dan sebagainya saat perayaan Tahun Baru Imlek.

"Masyarakat kita (Minang) sudah menerima itu (kebudayaan) karena tidak menyangkut agama. Budaya itu universal dan menjadi hiburan. Apalagi, Cap Go Meh sudah tumbuh beriringan dengan keragaman yang dinamis di Ranah Minang," kata Duski Samad, Selasa (28/2/2023).

Baca Juga:Ungkap Kasus Curanmor di Padang, Polisi Amankan 20 Sepeda Motor dan Satu Unit Pikap

Tak hanya mendengar cerita mulut ke mulut, Guru Besar UIN IB Padang itu sendiri telah merasakan bagaimana indahnya toleransi di Kampung Cina Pondok. "Saya sudah 4 tahun hidup di Pondok. Kalau bicara toleransi, sudahlah tidak perlu disebut lagi. Mungkin saat kata toleransi belum ada, Padang sudah toleransi," kata mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang itu.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini