Sedekah Seribu Sehari, Jalan Juang Penyintas Kanker Membangun Asa Kaum Duafa

Sejak empat tahun terakhir, Sri Chandra Nurlaili menyulap rumahnya menjadi tempat tinggal anak-anak terlantar. Semua kebutuhannya dicukupi dan juga di sekolahkan.

Riki Chandra
Jum'at, 30 Desember 2022 | 09:10 WIB
Sedekah Seribu Sehari, Jalan Juang Penyintas Kanker Membangun Asa Kaum Duafa
Sri Chandra Nurlaili (kiri), penggerak sedekah seribu sehari dan rumah asuh anak terlantar di Tanah Datar, saat menyaksikan kegiatan anak asuhnya setelah makan siang. [Suara.com/Riki Chandra]

Iis juga tidak membebankan memasak makanan sehari-hari dan memasak untuk anak asuhnya. Mereka baru diperbantukan untuk menjemur pakaian, menyapu rumah dan halaman.

"Belajar yang saya suruh wajib tiap hari. Tapi mereka rata-rata lemah sekali dalam sekolah," katanya.

Perlakuan baik Ummy Iis ini dibenarkan anak asuhnya, Siti. Siswi kelas 4 SD mengaku senang sejak tinggal di rumah asuh karena tidak lagi menahan lapar tak makan. Kemudian, dia juga bisa sekolah walau sampai hari ini ia masih kesulitan membaca. Padahal sudah berusia 13 tahun.

"Senang. Tidak pernah kena marah," kata Siti malu-malu.

Baca Juga:Pertamina Sebut Pasokan BBM dan LPG di Sumbar Aman Selama Libur Nataru

Begitu juga pengakuan Mei-mei. Menurut siswi kelas 3 SD itu, tinggal di rumah asuh Ummy Iis betul-betul dianggap seperti anak kandung. Dia tidak pernah dibebankan sesuatu pun.

"Makan tinggal makan. Belajar, sekolah dan shalat. Begitu saja tiap hari," katanya siswi berusia 11 tahun yang berasal dari pedalaman Kepulauan Mentawai itu.

Tak Peduli Cibiran Orang

Meski tanpa donatur tetap, Ummy Iis tetap mampu menghidupi anak asuhnya lewat donasi para dermawan sampai hari ini. Menurutnya, rezeki untuk anak-anak itu selalu ada dari sumber yang tak diduga-duga. Setiap hari, mereka yang duduk di bangku SD diberi jajan Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu untuk anak SMP. Sorenya, saat mau berangkat mengaji, mereka kadang-kadang juga diberi jajan tambahan.

"Biaya beras, lauk pauk, jajan dan kebutuhan anak-anak lainnya mencapai Rp 1,5 juta seminggu. Alhamdulillah, rezeki mereka selalu ada," katanya.

Baca Juga:Dua Rumah di Bukit Tinggi Terbakar, Begini Kejadiannya

Pernah beberapa kali tak ada beras untuk dimasak. Ketika berpikir mencari uang, tiba-tiba datang panggilan telepon orang yang akan berdonasi. Kadang saat terpepet betul untuk kebutuhan makan anak-anak ini, Iis tak jarang menghubungi teman-temannya yang juga cukup peduli.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini