“Kerja-kerja jurnalisme data, ialah kerja berbasis data statistik. Cerita yang berawal dari pola-pola bacaan data, serta membangun suatu narasi atau cerita. Jurnalisme data membuat jurnalisme lebih apik, berisi dan mengalisa hipotesa awal lebih berbasis angka dan data,” lanjut Budi.
Jurnalisme data menjadi bagian mewujudkan jurnalisme yang mampu dipertanggungjawabkan pada publik. Karena itu, guna mengaplikasikanya, membutuhkan perangkat dan platform yang mendukung.
Selain itu, jurnalisme data akan mampu mempengaruhi pemangku mengambil kebijakan yang tepat.
“Bahkan, kebanyakan pemangku kebijakan tidak bisa mengelak lagi saat jurnalisme data disajikan, misalnya ada yang membuat kluster-kluster COVID-19 di sebuah sekolah guna mempengaruhi pencegahan virus pada anak-anak,” ungkapnya.
Baca Juga:Seruan Penyelamatan Hutan Indonesia
Rochimawati, Ketua The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menambahkan, Setelah workshop ini selesai, ke-15 jurnalis diharapkan dapat mempraktikkan dalam kerja-kerja jurnalistiknya dengan mengangkat isu sumber daya alam dan kehutanan di wilayah kerja masing-masing.
“Harapan, ilmu ini diaplikasikan dan karya dapat dipublikasikan di media masing-masing karena SIEJ juga memberi apresiasi kepada peserta workshop dalam wujud kompetisi jurnalistik,” imbuhnya.
Kompetisi jurnalistik terbatas dengan tema “Memantau Kondisi Terkini SDA dan Hutan Indonesia” ini dibuka khusus untuk peserta workshop mulai tanggal 14 Otober – 27 Oktober 2021.
Tiga karya terbaik berdasarkan penilaian juri akan mendapatkan apresiasi masing-masing sebesar Rp 3 juta.
Pengumuman tiga karya jurnalistik pemenang kompetisi ini akan diumumkan pada tanggal 2 November 2021.
Baca Juga:7 Agustus Sebagai Hari Hutan Indonesia, Ini Fakta Penting Tentang Hutan!