- Ekonomi Provinsi Aceh tumbuh 4,09 persen secara tahunan pada triwulan I tahun 2026 dengan PDRB Rp39,95 triliun.
- Pertumbuhan didorong oleh sektor jasa keuangan, peningkatan konsumsi pemerintah, serta aktivitas konstruksi pascabencana banjir di wilayah tersebut.
- Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi kontributor utama perekonomian Aceh dengan total andil mencapai 31,70 persen.
SuaraSumbar.id - Ekonomi di Provinsi Aceh tumbuh sebesar 4,09 persen pada triwulan I tahun 2026, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (y-o-y). Pertumbuhan itu seiring kenaikan tertinggi di sektor lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi.
"Pertumbuhan positif ini disumbang oleh kenaikan dari sisi produksi, lapangan usaha Jasa Keuangan dan asuransi mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 17,96 persen dan sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 26,12 persen,” kata Kepala BPS Aceh, Agus Andria, melansir Antara, Rabu, 6 Mei 2026.
Pertumbuhan ekonomi Aceh dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yakni dari sisi produksi, terjadi peningkatan aktivitas pada sejumlah lapangan usaha seperti produksi daging ayam, sapi, dan kerbau guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri.
Pertumbuhan tersebut juga terjadi pada aktivitas akomodasi yang meningkat, pasca pemulihan bencana banjir dan untuk sektor konstruksi terjadi peningkatan penjualan semen hingga sekitar 30 persen, terutama didorong oleh kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir, termasuk pembangunan hunian sementara, hunian tetap, jalan, dan jembatan.
“Dari sisi konsumsi, daya beli masyarakat mengalami meningkat yang pengaruhi oleh bertambahnya jumlah ASN sebesar 11,32 persen, serta adanya pembayaran gaji dan tunjangan hari raya atau THR,” katanya.
Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Aceh tersebut dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp39,95 triliun.
“Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha kecuali pertambangan dan penggalian serta pengadaan air yang terkontraksi masing-masing sebesar 9,05 persen dan 1,97 persen,” katanya.
Perekonomian Aceh masih didominasi oleh pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 31,70 persen diikuti oleh perdagangan besar dan eceran-reparasi Mobil dan sepeda motor sebesar 15,92 persen, administrasi pemerintahan sebesar 8,99 persen, konstruksi sebesar 8,72 persen dan transportasi dan pergudangan sebesar 6,53 persen.
“Kelima lapangan usaha tersebut memberi andil besar terhadap perekonomian Aceh yakni mencapai 71,86 persen,” katanya.
Sementara untuk pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan I-2026 terhadap triwulan IV-2025 terkontraksi sebesar 0,61 persen (q-to-q), dari sisi lapangan usaha kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 10,30 persen dan dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami kontraksi terdalam sebesar 28,59 persen.
Ia berharap untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dapat terus ditingkatkan karena bidang tersebut berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.