Festival Pamalayu, Menjaga Peradaban Dharmasraya Lewat Atraksi Budaya

Arung Pamalayu menjadi puncak kemeriahan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi, Selasa (23/8/2022).

Riki Chandra
Jum'at, 30 Desember 2022 | 07:50 WIB
Festival Pamalayu, Menjaga Peradaban Dharmasraya Lewat Atraksi Budaya
Arung Pamalayu menjadi puncak Festival Pamalayu 2022. [Suara.com/B Rahmat]

Dari catatan, jejak perdaban masa lalu di sepanjang aliran Batanghari memang banyak ditemukan. Mulai dari Koto Kandis, Muarajambi, Padang Roco, Pulau Sawah, dan Solok Sipin. Bahkan, ada yang dipilih penguasa Melayu menjadi pusat pemerintahannya.

Sejarah kehidupan di kawasan aliran Batanghari memang sudah sangat tua. Pengaruh prehistori bahkan sampai ke Kerinci. Selain itu, ada juga pengaruh dari Tiongkok dengan ditemukannya keramik-keramik di Dinasti Han, abad ke-3. Kemudian, Batanghari juga menyimpan banyak sejarah yang berkaitan dengan peradaban Melayu.

Sejak abad ke-7, hiliran Batanghari telah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di pulau Sumatera; Sriwijaya dan Dharmasraya. Maka tak heran, sebagai salah satu daerah yang dilintasi Batanghari, Pemkab Dharmasraya getol mengkampanyekan penjernihan sungai bersejarah itu.

Mayoritas masyarakat Dharmasraya menjadikan sungai sebagai penghidupan ternak hingga kebutuhan sawah ladang. Sejatinya, daerah yang dilewati Batanghari tak hanya Dharmasraya. Sungai itu mengalir ke wilayah Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Sarolangun, Merangin, Tebo, Bungo hingga Kota Jambi di Provinsi Jambi. Semua daerah di dua provinsi itu kini saling menguatkan demi tujuan yang sama dalam balutan Festival Pamalayu.

Baca Juga:Asri Welas Ungkap Indra Bekti yang Masih Ingat Dengan Pekerjaannya Usai Jalani Operasi

"Perayaan festival Pamalayu ini bukan sekadar untuk peradaban kebudayaan dan kesenian saja. Kami juga suarakan pentingnya melindungi lingkungan, terutama sungai Batanghari," kata Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Sutan Riska optimis cita-citanya menjernihkan kembali aliran Batanghari akan terwujud di masa mendatang. Menurutnya, semua kepala daerah yang wilayahnya dilintasi Batanghari, termasuk penegak hukum, sudah berkomitmen untuk sama-sama mengembalikan keasrian Batanghari.

Pihaknya bersama penegak hukum akan mengedukasi para penambang emas di aliran Batanghari untuk tidak lagi merusak lingkungan. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan izin resmi dengan syarat mengikuti semua tahapan yang ada. Dengan begitu, air Batanghari tidak lagi tercemar oleh kandungan mercury.

"Langkah memperketat penjagaan sungai Batanghari tentu saja dengan melahirkan Peraturan daerah (Perda). Kami juga akan buat Peraturan Bupati (Perbup) tentang larangan membuang sampah ke sungai. Sekarang sudah ada 12 Lubuk Larangan di Batanghari. Semoga ini menjadi langkah awal menjernihkan kembali Batanghari," katanya.

Merawat Sejarah

Baca Juga:Jokowi Perintahkan TNI Serang dan Bumi Hanguskan Australia, Benarkah?

Festival Pamalayu digagas untuk membangkitkan kembali memori masa lampau agar generasi muda mengetahui sejarah daerah itu sendiri. Gelaran kegiatannya dibungkus dengan ragam atraksi budaya. Banyak cerita tentang perabadan Budha dan Hindu di tanah Dharmasraya. Dalam edisi kedua ini, sejumlah artefak kuno pun dipamerkan kepada masyarakat di kawasan Candi Pulau Sawah.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini