SuaraSumbar.id - Pegiat media sosial, Denny Siregar ikut-ikutan mengomentari ribut-ribut kabar kudeta terhadap Partai Demokrat yang dituding dilakukan oleh orang-orang dilingkaran Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Apalagi, kabar tersebut datang dari Ketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.
Denny menilai, hal yang dilakukan putra sulung SBY itu adalah bagian dari sensasi alias mencari panggung.
"Oalahhh @AgusYudhoyono ini Pansos apalagi?," tulis Denny di akut Twitternya, Senin (1/2/2021).
Baca Juga:Moeldoko: Kalau Anak Buahnya Nggak Boleh Kemana-mana, Diborgol Aja Kali Ya
![Cuitan Denny Siregar si akun Twitternya. [ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/02/02/64244-denny.jpg)
Denny mengomentari itu sembari menautkan berita tentang isu kudeta Demokrat yang dilahir dari AHY sendiri.
"Mending bicara prestasi @PDemokrat deh. Partai kok penuh sensasi..," kata Denny Siregar.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat, AHY mengungkapkan adanya gerakan politik yang mengarah pada upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa.
AHY berujar gerakan terdebut mengancam kedaulatan dan eksistensi Partai Demokrat. Berdasarkan informasi yang diperoleh, AHY menyebut gerakan take over Partai Demokrat juga melibatkan lingkaran sekitar Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
"Kesaksian dan testimoni banyak pihak yang kami dapatkan, gerakan ini melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo. Lebih lanjut, gerakan ini juga dikatakan sudah mendapatkan dukungan dari sejumlah menteri dan pejabat penting di pemerintahan Presiden Joko Widodo," tutur AHY dalan keterangannya usai rapat pimpinan, Senin (1/2/2021).
Baca Juga:Moeldoko Buka-bukaan Soal Isu Kudeta Demokrat: Jadi Pemimpin Jangan Baperan
Namun untuk mengkonfirmasi informasi tersebut, AHY mengaku telah mengirimkan surat secara resmi kepada Jokowi. Surat yang dikirimkan tersebut bertujuan untuk mendapatkan konfirmasi dan klarifikasi dari Jokowi terkait kebenaran informasi keterlibatan gerakan di lingkaran kekuasaan.
Sementara itu, berdasarkan informasi lain yang diterima AHY sekitar 10 hari lalu dari internal Partai Demokrat, diketahui ternyata gerakan dan manuver politik merebut partai tersebut juga melibatkan segelintir kader dan mantan kader Partai Demokrat.
Internal kader dan mantan kader itu kemudian juga melibatkan pihak luar atau eksternal partai. AHY mengatakan, gerakan take over dilakukan secara sistematis.
"Gabungan dari pelaku gerakan ini ada 5 (lima) orang; terdiri dari 1 kader Demokrat aktif, 1 kader yang sudah 6 tahun tidak aktif, 1 mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan dengan tidak hormat dari partai karena menjalani hukuman akibat korupsi, dan 1 mantan kader yang telah keluar dari partai 3 tahun yang lalu," kata AHY.