-
Hujan ekstrem picu perubahan hidrologi dan pendangkalan Sungai Batang Kuranji.
-
Alih fungsi lahan melemahkan cadangan air tanah kawasan hulu.
-
Curah hujan rendah belum mampu memulihkan aliran dasar sungai.
SuaraSumbar.id - Fenomena Sungai Batang Kuranji mengering pasca banjir bandang dan longsor yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), akhir November 2025 mendapat penjelasan ilmiah dari pakar hidrologi Universitas Andalas (Unand).
Kondisi itu disebut merupakan respons alami daerah aliran sungai (DAS) terhadap hujan ekstrem yang melampaui daya simpan tanah.
Pakar sekaligus dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Unand, Prof Dian Fiantis, menjelaskan Sungai Batang Kuranji mengering bukan terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab.
Curah hujan ekstrem yang terjadi selama sepekan di kawasan hulu telah memicu perubahan besar pada sistem hidrologi sungai.
“Kondisi tersebut merupakan respons alami daerah aliran sungai (DAS) terhadap hujan ekstrem yang diikuti melemahnya simpanan air tanah,” katanya, Rabu (4/2/2026).
Berdasarkan data Global Precipitation Measurement Integrated Multi-Satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG), curah hujan di hulu Batang Kuranji pada 19–25 November 2025 tercatat melampaui 500 milimeter.
Setelah itu, hujan kembali turun sekitar 190 milimeter hanya dalam dua hari. Intensitas ini disebut menjadi pemicu awal Sungai Batang Kuranji mengering di kemudian hari.
“Dalam hidrologi, hujan sebesar ini membuat tanah di hulu jenuh total. Pori-pori tanah yang biasanya menyimpan air tidak lagi mampu bekerja optimal sehingga air berubah menjadi limpasan permukaan dan memicu banjir bandang,” katanya.
Akibat hujan ekstrem tersebut, sedimen halus hingga kasar dari kawasan hulu terbawa ke alur sungai. Material ini kemudian mengendap di bagian tengah hingga hilir sungai dan menyebabkan pendangkalan dasar sungai mencapai satu hingga dua meter.
Namun ironisnya, setelah hujan berhenti, Sungai Batang Kuranji mengering karena kehilangan pasokan air dari bawah permukaan tanah.
Prof Dian menjelaskan masalah utama terletak pada melemahnya fungsi tanah dan batuan di hulu sebagai “spons alam”.
Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, serta permukiman membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanpa sempat tersimpan sebagai cadangan air tanah.
“Kondisi ini berdampak pada melemahnya baseflow atau aliran dasar sungai. Padahal baseflow berperan penting menjaga sungai tetap mengalir saat hujan berhenti,” ujarnya.
Selain itu, di beberapa segmen Batang Kuranji, dasar sungai yang tersusun dari material vulkanik berpori tinggi justru mempercepat peresapan air ke dalam tanah saat muka air tanah turun. Fenomena ini dikenal sebagai losing stream, yakni kondisi sungai kehilangan air ke akuifer.
Data curah hujan pada 12–26 Januari 2026 menunjukkan hujan harian di hulu Batang Kuranji relatif rendah, dengan rata-rata 7,3 milimeter per hari.
Berita Terkait
-
WALHI: PETI di Sumbar Sudah Hancurkan Lebih dari 10 Ribu Hektare Hutan dan Lahan
-
Sisa Material Banjir Bandang Masih Selimuti Kawasan Muara Batang Kuranji
-
Dilaporkan ke Polisi, Abu Janda Bantah Hina Warga Sumbar
-
Pesona Air Terjun Lembah Anai, Sambut Wisatawan di Jalur Padang Bukittinggi
-
Heboh Suara Perempuan Nyanyi 'Lelaki Cadangan' Saat Wakil Wali Kota Padang Pidato
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi