- Dokter Anindia Larasati menyatakan bahwa dehidrasi berat dan infeksi dapat menyebabkan gagal ginjal akut yang bersifat sementara.
- Penyakit diabetes serta hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang menjadi pemicu utama munculnya gagal ginjal kronis.
- Penanganan dini pada faktor pemicu dapat mencegah pasien dari kebutuhan tindakan hemodialisis atau cuci darah secara berkelanjutan.
SuaraSumbar.id - Gagal ginjal menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Namun, sering kali terdeteksi saat kondisinya sudah cukup serius.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari RSUI dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, gagal ginjal terbagi menjadi gagal ginjal akut yang biasanya dipengaruhi faktor pencetusnya seperti dehidrasi.
"Seperti misalkan ada infeksi, dehidrasi kekurangan cairan yang berat. Kalau kita atasi faktor penyebabnya, kita harapkan fungsi ginjal dapat kembali seperti semula," katanya melansir Antara, Selasa, 23 Juni 2026.
Kemudian, ada juga gagal ginjal kronis yang disebabkan biasanya dari faktor yang berjalan sudah lama bisa puluhan tahun.
Ini diawali dengan gaya hidup tidak sehat sehingga muncul penyakit lain seperti diabetes melitus hingga hipertensi.
"Hipertensi yang lama dan tidak terkontrol lama-lama mengganggu fungsi ginjal, menyebabkan komplikasi ke ginjal hingga akhirnya menyebabkan penyakit ginjal kronis,” ujarnya.
Gagal ginjal akut merupakan kerusakan ginjal yang terjadi secara tiba-tiba dalam hitungan hari. Sedangkan, gagal ginjal kronis merupakan kondisi yang terjadi ketika ginjal mengalami kerusakan parah dalam jangka waktu lama atau lebih dari tiga bulan.
Jika faktor penyebab yang mencetusnya seperti dehidrasi maupun infeksi masih bisa ditangani, maka pasien kemungkinan tidak perlu menjalani hemodialisis atau cuci darah secara berkelanjutan.
Namun sebaliknya, jika pasien mengalami gagal ginjal kronis oleh faktor yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang prosesnya berlangsung sudah lama seperti hipertensi maupun diabetes melitus, maka pasien akan membutuhkan hemodialisis berkepanjangan.
"Kalau pada gagal ginjal akut, mungkin dia ada penyebab khusus yang membuat gangguan fungsi ginjal, penurunan fungsi ginjal sementara. Namun ada juga pada pasien dengan gagal ginjal kronis yang membutuhkan proses hemodialisis," kata Anindia.
Berita Terkait
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
-
Stop Romantisasi Pengabdian: Guru dan Nakes Juga Berhak Hidup Layak
-
Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB
-
Remaja Indonesia Hadapi Ancaman Kesehatan Mental, Kecemasan dan Depresi Jadi Temuan Utama
-
Mengapa Isu Kesehatan Dinilai Lebih Efektif Mendorong Pertanian Berkelanjutan?
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Semalaman Terombang-ambing, Nelayan Painan Ditemukan Selamat di Perairan Lakitan Selatan
-
Pria di Sumbar Jual Kekasih Lewat MiChat untuk Layani Pelanggan
-
3 Bahan Saja! Resep Camilan Sehat Gunakan Pisang dan Cokelat
-
BRI Dukung Pengelolaan Kas Negara Lewat Dana SAL, Perkuat Fungsi Intermediasi Perbankan
-
Pengamat Nilai Transformasi Danantara Perkuat Kontribusi Pajak BRI bagi Negara