SuaraSumbar.id - Pembukaan lahan oleh masyarakat di sekitar Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau GAW di Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), dikhawatirkan berdampak pada eksistensi keakuratan data stasiun yang hanya berjumlah 30 di dunia.
"Saat ini memang belum mengganggu secara signifikan. Namun, BMKG khawatir pembukaan lahan di sekitar stasiun ini meluas dan tidak terkendali," kata Perekayasa Utama BMKG, Urip Haryako, Rabu (26/6/2024).
Sebelum Stasiun GAW beroperasi, Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) telah memberikan sejumlah aturan ketat yang wajib dipatuhi di antaranya lokasi stasiun harus terhindar dari polusi udara.
Ia mencontohkan apabila masyarakat di sekitar Stasiun GAW membakar sampah otomatis menghasilkan karbon dioksida atau CO2. Karbon dioksida tersebut akan langsung terbaca oleh Stasiun GAW.
Hingga saat ini BMKG masih bisa mengeliminasi karbon dioksida hasil pembakaran sampah oleh masyarakat setempat. Namun, yang dikhawatirkan ialah karbon dioksida jangka panjang yang dapat mengganggu eksistensi keakuratan data stasiun.
"Jadi, BMKG mengkhawatirkan adanya perluasan pembukaan lahan yang tidak terkendali," ujar dia menegaskan.
Sementara itu, Kepala Stasiun GAW Bukit Kototabang Sugeng Nugroho mengatakan sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Agam khususnya Kecamatan Palupuah serta nagari (desa) di sekitar stasiun.
Dalam waktu dekat Stasiun GAW Bukit Kototabang akan meningkatkan sosialisasi pentingnya menjaga kondisi lingkungan di sekitar stasiun. Sebab, jangan sampai hasil pemantauan atmosfer tidak diakui dunia.
Di satu sisi BMKG memahami perluasan lahan atau pembukaan lahan baru di sekitar stasiun berkaitan dengan sumber pendapatan masyarakat. BMKG menyarankan agar warga yang sudah terlanjur membuka lahan untuk menanam pohon atau tumbuhan produktif serta membantu meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.
Baca Juga: Misteri Peradaban Kuno Maek Menanti Bongkar: Ikuti Lomba Menulisnya hingga 10 Juli 2024
"Misalnya masyarakat bisa menanam pisang, durian dan sejenisnya. Selain nilai ekonominya dapat sisi ekologisnya juga terjaga," katanya. (Antara)
Berita Terkait
-
Gas Beracun Erupsi Gunung Marapi di Sumbar Berbahaya? Ini Penjelasan GAW Bukit Kototabang
-
Tragis! Pelajar SMP Tewas Mengenaskan di Padang, Komnas HAM Turun Tangan!
-
Terkuak! Penyebab 6 Tulang Rusuk Siswa SMP Patah di Padang, Polisi Bantah Dugaan Penyiksaan
-
Syaratnya Cukup Nabung Rp50 Ribu Saja, Ayo Buka Tabungan di BRI Simpedes
-
BRI dan Samsung Luncurkan Samsung BRI Credit Card untuk Kemudahan Nasabah
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Pemuda di Batam Alami Insiden Tak Terduga, Jari Tersangkut di Shock Motor Saat Iseng
-
Gen Diabetes Bukan Vonis, Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci
-
Padang Pariaman Bebaskan Denda Tunggakan PBB-P2, Warga Bisa Bayar Pajak hingga 10 Agustus
-
4 Tes Darah yang Wajib Dipantau Pria Dewasa, Bisa Bantu Cegah Penyakit Ini
-
BRI Tolak Berbagai Bentuk Penyimpangan yang Merugikan Negara dan Masyarakat