SuaraSumbar.id - Sayup-sayup tawa kecil terdengar dari sebuah rumah berukuran 6x6 meter yang halamannya masih basah. Rintik hujan baru saja reda di sore hari Minggu, pertengahan Januari 2022.
Pintu rumah berwarna coklat muda itu terbuka sekitar 30 sentimeter. Tampak seorang wanita bersama balita perempuannya sedang menonton televisi. Ibunya bersandar di sudut jendela dekat daun pintu, sedangkan bocah manis itu duduk di atas sepeda motor mainannya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, ada kakak Arsyi dan Fahim. Masuk-masuk Kak. Ini Adin (anaknya) lagi asyik nonton Upin-Ipin," sahut perempuan itu menjawab salam saudaranya yang berkunjung bersama istri dan dua gadis kecil.
Perempuan itu bernama Ismi Anisa Azizah. Belum genap 3 bulan lamanya dia menempati rumah itu bersama suami Dedi Supriadi Dalimunte dan putri kecil mereka, Adinda Ramadhani Denisha yang baru berumur 1,5 tahun. Rumah permanen itu didapatkan Ismi Anisa setelah Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengabulkan pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi di tengah pandemi Covid-19.
"Alhamdulillah, akad kreditnya selesai September 2021 lalu," kata perempuan yang akrab disapa Nisa itu memulai cerita tentang rumah barunya.
Meski berukuran kecil, bagi Nisa dan suaminya, rumah seluas 60 meter persegi itu adalah "istana". Apalagi, rumahnya istimewa dan cukup lengkap untuk ukuran keluarga kecil dengan dua orang anak. Ada ruang tamu, dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Rumah bersubsidi dengan total luas tanah 91 meter persegi itu juga dilengkapi teras dan semuanya berlantai berkeramik. Kemudian, airnya bersumber dari PDAM dan listrik PLN berkapasitas 900 watt.
"Rumahnya betul-betul siap ditempati. Kami hanya membuat dapur kecil agar ruang tamu terasa cukup besar. Kalau halaman ya begitu, belum ada pagar seperti tetangga. Yang penting bisa nyaman berteduh dulu," kata Nisa sembari menunjuk halaman rumahnya yang belum dihiasi ragam bunga.
Nisa mengisahkan perjuangannya mendapatkan rumah yang terletak di kawasan Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) itu. Dia bahkan masih serasa mimpi bisa mendapatkan rumah impian itu dalam usia pernikahan yang baru seumur jagung.
Awal menikah di 2019 lalu, Nisa belum memikirkan untuk cepat-cepat membeli rumah. Semua keraguan tidak terlepas dari pekerjaannya bersama suami yang sama-sama bekerja sebagai honorer di Pemerintah Kabupaten Solok. "Saya honor di Dinas Sosial. Kalau suami sopir di dinas juga. Jadi, belum kepikiran kredit rumah. Takut nggak bisa bayar, taulah gaji honorer berapa," beber sarjana pendidikan itu.
Baca Juga: BTN Siapkan Digital Mortgage Ecosystem Menghadapi Era Digitalisasi
Hanya sebulan lebih lamanya Nisa dan suaminya tinggal di rumah orang tua. Suaminya ingin hidup mandiri dan berencana mengontrak rumah yang dekat lokasi kerja. Beruntung, saat sedang mencari-cari rumah kontrakan, dia ditawarkan tinggal di rumah kerabat suaminya yang kebetulan menetap di Kota Padang. "Kami langsung mau. Lumayan hemat juga daripada mengontrak," katanya.
Setelah lebih setahun tinggal di rumah kerabatnya, Nisa baru berpikir untuk punya rumah. Keinginan itu pun disampaikannya kepada sang suami. Sayangnya, suaminya belum merespon lantaran memikirkan darimana mendapatkan uang untuk membeli rumah yang harganya di atas Rp 150 juta. Setelah mendapat saran dan pandangan tentang pentingnya cepat-cepat punya rumah oleh kerabatnya, suami Nisa akhirnya luluh dan menyetujui rencana tersebut.
"Kerabat suami bilang mumpung masih muda, anak baru satu dan masih kecil. Ambil KPR BTN saja yang murah. Pembayarannya bisa disesuaikan dengan pekerjaan dan pendapatan," katanya mengisahkan.
Nisa dan suaminya, Dedi, akhirnya memantapkan hati untuk membeli rumah lewat KPR bersubsidi BTN sejak September 2020, ketika pandemi Covid-19 sedang menggila di Indonesia. Niat Nisa mengambil rumah memang hanya lewat BTN. Sebab, dia hanya mengetahui KPR murah lewat BTN dari cerita pengalaman kawan-kawan dan kerabatnya. "Kami hanya ingin kredit lewat BTN dan itu sudah tertanam sejak awal mau beli rumah ini," tuturnya.
Tak lama kemudian, Nisa mendatangi kantor pengembang perumahan yang tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya. Di sana, dia menanyakan detail-detail tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi calon pembeli, termasuk soal uang muka untuk memesan rumah. "Saya sengaja nggak pakai aplikasi btnproperti karena pengembangnya dekat dan saya memang maunya di perumahan ini," kenangnya.
Alhasil, untuk mendapatkan rumah sampai akad kredit, Nisa harus memiliki uang sebesar Rp 15 juta. Nisa terperangah karena tak punya uang sebanyak itu. Suaminya juga langsung mengernyitkan dahi. "Gaji honorer kami berdua tidak seberapa. Kami juga tak punya simpanan, kecuali gelang dan cincin emas anak yang nilainya tak lebih Rp 5 juta. Kami pusing itu masalah DP ini, kalau cicilan bisa diupayakan," katanya.
Berita Terkait
-
158 WNA Bermukim di Sumbar, Mayoritas dari China dan India
-
Bangkai Ikan Mati Massal di Danau Maninjau Keluarkan Bau Busuk, Tercium hingga Jarak 1 Kilometer
-
Ikan Mati di Danau Maninjau Bertambah, Petani Ungkap Kerugian Sampai Rp2,6 Miliar
-
7 Daerah di Sumbar PKKM Level 3, Termasuk Kabupaten Solok dan Mentawai
-
Kebakaran Pasar Bawah Bukittinggi Hanguskan 6 Kios, Kerugian Ratusan Juta
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Puncak Mudik Bakauheni Diprediksi 18-19 Maret 2026, ASDP Ingatkan Pemudik Segera Beli Tiket
-
Belajar dari Pengalaman, Jukir di Jogja Deklarasi Anti Nuthuk saat Libur Lebaran
-
Kisah Fendi, Bocah Gunungkidul yang Rela Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu
-
Harry Styles Ungkap Perjuangan Jadi Penyanyi Solo Usai One Direction Bubar
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
Terkini
-
Traveling Lebaran ke Luar Negeri Jadi Praktis Tanpa Harus Tukar Mata Uang
-
Jurnalis Suara.com Jadi Komisioner KPID Sumbar 2026-2029, Ini Profilnya
-
Bijak Berbelanja Jelang Hari Raya, Ini Tips Belanja Hemat dengan Promo BRI
-
Puncak Arus Mudik di Perbatasan Sumbar-Riau Diprediksi H-3 Lebaran, Polisi Kerahkan Tim
-
Pejabat Pemko Padang Boleh Mudik Lebaran 2026 Pakai Mobil Dinas, Ini Alasannya