- Seorang siswa berinisial B di SMA Pertiwi 2 Padang dirawat di RS Jiwa akibat dugaan perundungan rekan sekolahnya.
- Pihak sekolah menyatakan kejadian tersebut hanya bercanda, namun keluarga korban bersikeras bahwa B mengalami tekanan fisik dan verbal.
- Pihak sekolah masih mendalami kasus tersebut karena terdapat perbedaan keterangan antara keluarga korban dan para siswa yang dituduh.
SuaraSumbar.id - Kasus dugaan perundungan atau bullying terhadap di SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat, lagi ramai dibicarakan. Seorang siswa berinisial B sampai harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang karena mengalami depresi. Namun pihak sekolah punya versi cerita yang berbeda.
Wakil Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Desi Nofita Sari, menilai apa yang terjadi di kelas B bukanlah perundungan seperti yang ramai dibicarakan. Menurutnya, interaksi antar siswa lebih ke arah bercanda, hanya saja B dianggap lebih sensitif dalam menanggapi.
“Kalau dilihat, itu lebih ke candaan. Cuma memang anak ini penerimaannya beda, jadi terasa lain buat dia,” kata Desi saat ditemui, Rabu 8 April 2026.
Isu ini mencuat setelah video keluarga B yang mendatangi sekolah tersebar luas di media sosial. Dalam video tersebut, suasana terlihat tegang, bahkan beberapa siswa yang diduga terlibat ikut dimarahi.
Kemarahan keluarga bukan tanpa alasan. Mereka menyebut B mengalami tekanan berat hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Dugaan adanya bullying pun langsung mengemuka.
Namun pihak sekolah tidak sepakat jika kondisi B sepenuhnya disebabkan oleh perundungan. Desi menyebut, berdasarkan cerita orang tua, kondisi mental B sudah menurun sejak ayahnya meninggal saat ia masih SMP.
“Dari cerita orang tuanya, dia memang sudah mulai down sejak kehilangan ayahnya,” jelasnya.
Di lingkungan sekolah sendiri, B dikenal sebagai sosok yang pendiam dan cenderung menutup diri. Selama ini, menurut pihak sekolah, tidak pernah ada laporan langsung dari B terkait tindakan perundungan.
Sementara itu, pihak keluarga mengaku B mengalami perlakuan tidak menyenangkan, baik secara fisik maupun verbal. Di sisi lain, empat siswa yang dituding justru membantah tuduhan tersebut dan mengaku tidak melakukan hal seperti itu.
Sekolah pun mengaku masih kebingungan menyikapi perbedaan cerita ini. Mereka menilai informasi dari berbagai pihak belum sepenuhnya jelas, apalagi kondisi B saat ini juga sedang tidak stabil.
“Makanya kami belum bisa ambil kesimpulan. Semua masih kami dalami,” kata Desi.
Saat ini, pihak sekolah mengaku masih terus menelusuri fakta yang sebenarnya. Mereka juga menegaskan tetap berempati kepada semua siswa yang terlibat, baik yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku.
Intinya, kasus ini masih belum terang. Semua pihak diminta untuk menunggu hasil penelusuran lebih lanjut agar tidak salah menilai situasi yang sebenarnya terjadi.
Kontributor: Saptra S