Faktor utama yang memicu tingginya risiko kebakaran di kawasan ini adalah penggunaan bahan bangunan mudah terbakar seperti papan dan tripleks, serta belum meratanya instalasi listrik yang aman.
Menurut catatan, daerah Kecamatan Matur sendiri pernah mengalami insiden kebakaran serupa pada awal tahun lalu, yang juga menyebabkan kerugian material besar meski tanpa korban jiwa.
Peristiwa nahas ini menjadi pengingat bagi masyarakat di wilayah pedesaan agar lebih waspada, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idul Adha, di mana aktivitas masyarakat cenderung meningkat sejak dini hari.
“Biasanya masyarakat mulai bangun pagi-pagi untuk persiapan salat dan menyembelih hewan kurban. Potensi kebakaran bisa terjadi karena penggunaan api atau listrik yang tidak diawasi dengan baik,” kata seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, pihak pemadam kebakaran juga mengimbau agar warga memeriksa instalasi listrik dan memastikan alat-alat pemanas atau masak dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah, terutama saat hendak beribadah ke masjid.
Hingga kini, aparat kepolisian masih mendalami penyebab kebakaran. Dugaan sementara, api muncul dari dalam rumah, namun belum bisa dipastikan apakah karena korsleting listrik atau sumber api lainnya.
Pihak keluarga korban telah menerima musibah ini dengan lapang dada dan berharap masyarakat turut mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Petani di Agam tewas dalam kebakaran rumah menjadi satu dari sekian tragedi yang terjadi di tengah persiapan masyarakat menyambut Idul Adha. (Antara)