Maelo Pukek, Menjemput Berkah Laut Tanpa Merusak Habitat Ikan

Para nelayan di pantai Padang dan pesisir Sumatera Barat (Sumbar), masih merawat tradisi turun temurun itu sampai hari ini.

Riki Chandra
Jum'at, 09 Desember 2022 | 06:10 WIB
Maelo Pukek, Menjemput Berkah Laut Tanpa Merusak Habitat Ikan
Aktivitas maelo pukek (menarik pukat) nelayan di Pantai Purus, Kota Padang, Sumatera Barat. [Suara.com/Riki Chandra]

"Hasil pukek ini dijual langsung di pinggir pantai. Uang itu nanti dibagi-bagi. Kalau dapat rezeki lebih, bisa bergaji Rp 100 ribu. Tetapi saat sedang tak beruntung, bisa-bisa hanya Rp 10 ribu saja," katanya.

Masyarakat menyaksikan tukang elo pukek membersihkan ikan hasil mamukek di Pantai Purus, Kota Padang. [Suara/Riki Chandra]
Masyarakat menyaksikan tukang elo pukek membersihkan ikan hasil mamukek di Pantai Purus, Kota Padang. [Suara/Riki Chandra]

Menangkap ikan dengan cara maelo pukek dikenal alami dan tidak merusak. Jenis ikan tangkapannya kecil-kecil. Mulai dari maco, beledang, pinang-pinang. Ada juga udang dan lobster. Ikan-ikan tersebut langsung dijual di pinggir pantai dengan cara ditakar tanpa ditimbang.

Setumpuk kecil ikan dijual seharga Rp 20 ribu hingga ratusan ribu. Harga udang dan lobster juga lebih mahal. "Mamukek tidak merusak. Ikan yang kecil-kecil ke luar lagi dari jaring, tidak terbawa ke daratan. Ikan-ikannya segar dan sangat bergizi," kata Majid (63), tukang pukek lainnya.

Kakek tiga cucu itu juga sudah hampir 40 tahun jadi tukang pukek. Dia hidup dan membesarkan anak-anaknya dari ikan hasil tangkapan pukek. "Alhamdulillah walau tak kaya, tapi tetap bisa bertahan hidup dengan maeolo pukek ini," katanya.

Baca Juga:Punya Program Asuransi Nelayan dan Peningkatan Kesejahteraan, Ganjar Kembali Dapat Dukungan

Sementara itu, Ketua KNKAP Kota Padang, Jamal mengatakan, jumlah anggota maelo pukek yang tergabung dalam KNKAP mencapai 43 orang dan jumlah pukeknya empat unit. Modal membuat satu unit pukek lengkap dengan jaring dan tali-talinya mencapai Rp 5 juta.

"Satu pukek biasanya 10 orang. Tapi yang tidak anggota KNKAP juga boleh ikut maelo pukek, tidak ada batasan," katanya.

Jamal mengatakan, hasil tangkapan ikan hari ini memang jauh berbeda dibandingkan dengan tangkapan 30 tahun lalu. Dulu, masih ada ikan-ikan berukuran besar ke pinggir pantai. Kini semua ikan pukek berukuran kecil.

"Ikan jarang ke tepi, sedangkan kami nelayan pukek tapi (tepi). Mereka yang cari ikan ke tengah laut namanya pukek payang. Menarik jaringnya dari kapal saja dan talinya pendek, beda dengan kami yang pakai tali panjang," kata kakek 63 tahun itu.

Para tukang pukek di Padang, kata Jamal, hanya mencari sesuap nasi. Tidak mungkin mencari kaya dengan hasil tangkapan ikan puluhan kilogram sehari. Ikan hasil maelo pukek tidak berton-ton seperti nelayan pencari ikan ke tengah laut dengan menggunakan kapal dan berhari-hari.

Baca Juga:OMG Jatim Distribusi Peralatan Melaut untuk Nelayan di Pesisir Selat Madura

"Hasil tangkapan tergantung rezeki dan itu tidak bisa direncanakan. Kita hanya menikmati kekayaan laut, tidak ngasih ikan makan. Makanya harus selalu bersyukur dengan apapun hasilnya," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini