Sepenggal Kisah Pelaku UMKM Bertahan dan Bangkit dari Badai Covid-19

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sumatera Barat (Sumbar) mulai menggeliat pasca dua tahun lebih pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia.

Riki Chandra
Kamis, 10 November 2022 | 16:55 WIB
Sepenggal Kisah Pelaku UMKM Bertahan dan Bangkit dari Badai Covid-19
Linda memamerkan busana karyanya di ajang ajang International Handicraft Trade Fair (Inacraft) di Jakarta tahun 2019. [Suara.com/Dok.Pribadi]

Berangsur-angsur, sulamannya pun mulai mendapat tempat dihati para pemesan. Banyak konsumen yang kemudian mencari pembuat sulaman itu untuk memesan dalam jumlah tertentu. "Nah, karena permintaan sudah mulai banyak, orang tua berfikir untuk membuka toko sendiri dan inilah yang ada hari ini," tuturnya.

Selain peminat lokal di Sumbar, pemesan sulamannya kini juga banyak datang dari Jakarta. Nama sulamannya semakin dikenal sejak menjadi mitra binaan Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I. "Alhamdulillah. Kalau untuk pemasaran sudah sering ke Jakarta. Ini tidak terlepas dari promosi yang dibantu Pertamina," katanya.

Sulaman milik Desi mulai menjadi mitra binaan Pertamina sejak tahun 2018. Setahun bergabung, Sulaman Putri Ayu langsung berpartisipasi di ajang International Handicraft Trade Fair (Inacraft) pada April 2019 di Jakarta. Sebuah kesempatan emas yang jarang dinikmati UMKM dari Ranah Minang. Apalagi, pameran Inacraft itu dibuka langsung Presiden Joko Widodo dan dihadiri oleh ratusan ribu orang.

Menurut Desi, Pertamina memberikan ruang promosi yang justru di luar ekspektasi para pelaku UMKM. Baginya, pameran Inacraft merupakan ajang bergengsi yang sangat berpotensi meningkatkan sasaran pemasaran. Bahkan ketika itu, omzet usahanya tembus hingga ratusan juta rupiah.

Baca Juga:Alhamdulillah! 275 Pelaku UMKM Dapat Modal Usaha, Masing-masing Rp 2 Juta

"Pertamina betul-betul memberi ruang untuk mempromosikan diri, bahkan di pameran paling bergengsi. Branding produk ini bagian yang paling mahal dan lama untuk dijalani. Dan saya bersyukur bisa menjadi bagian UMKM yang dipromosikan Pertamina," katanya.

Manfaat bantuan modal usaha Pertamina ini juga dirasakan oleh Khadir Pamangku Malin Rahim (52), seorang petani serai wangi (citronella oil) asal Kabupaten Pesisir Selatan.

Dia mengaku telah menekuni budidaya serai wangi sejak tahun 2017. Usahanya kian melonjak setelah mendapat sentuhan dan modal usaha dari Pertamina. "Alhamdulillah, kelompok tani kami menjadi binaan Pertamina sejak 2018. Kami dibantu modal usaha yang cukup meringankan. Sebab, bunganya hanya 0,2 persen," katanya.

Budidaya serai wangi ini bernaung di bawah kelompok tani Talang Jaya yang berlokasi di Lunang Silaut, Pesisir Selatan dengan jumlah anggota 25 orang. Semula, jumlah lahannya baru sekitar 2 hektare. Setelah disokong bantuan modal Pertamina, luas areal pertanian serai wangi kelompok tani yang diketuai Khaidir itu kini mencapai 6 hektare.

"Kami betul-betul bersyukur bisa menjadi mitra binaan Pertamina. Kalau tidak, darimana modal pengembangan yang jumlahnya cukup besar," katanya.

Baca Juga:Tinggal 4 Hari Lagi, Ini Cara Daftar Program Bantuan UMKM dari Facebook

Khadir mengatakan, salah satu yang membuat Pertamina tertarik membantu petani serai wangi ini adalah karena peluang bisnis dan kesejahteraan untuk petani cukup terbuka lebar. "Pasaran serai wangi ini ke luar negeri. Potensi petani berkembang sangat terbuka, makanya Pertamina bersedia membina kami," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini