Berebut Pasar di Ujung Jari, Strategi UMKM Berdamai dengan Pandemi

Pandemi Covid-19 nyaris melumpuhkan semua sektor penghidupan masyarakat. Jutaan karyawan dirumahkan sejak virus corona mewabah di Indonesia.

Riki Chandra
Senin, 25 Oktober 2021 | 09:15 WIB
Berebut Pasar di Ujung Jari, Strategi UMKM Berdamai dengan Pandemi
Proses membantik di sanggar produksi Batik Tulis Salingka Tabek. [Dok.Istimewa]

SuaraSumbar.id - Pandemi Covid-19 nyaris melumpuhkan semua sektor penghidupan masyarakat. Jutaan karyawan dirumahkan sejak virus corona mewabah di Indonesia. Tak sedikit pelaku usaha kecil hingga pengusaha besar terpaksa gulung tikar.

Meski tertatih di tengah melambatnya pergerakan ekonomi bangsa, masih ada pelaku usaha kecil yang kokoh bertahan. Bahkan, omzetnya melambung naik sejak awal pandemi Covid-19 mewabah pada tahun 2020 lalu.

"Alhamdulillah omzet naik. Kalau terdampak pastilah, tapi kami tak putus asa begitu saja," kata Yusrizal, salah seorang pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), Minggu (24/10/2021).

Bujangan 29 tahun itu adalah pengrajin Batik Tulis Salingka Tabek yang bermarkas di Jorong Bawah Duku, Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Usaha membatik dengan khas batik tanah liek (liat) asli Solok itu telah digelutinya sejak 2017 silam.

Baca Juga:Fantastis, Di 2020 Transaksi e-Commerce Indonesia Capai Rp 266,3 Triliun

Lulusan D3 komputer itu blak-blakan menyebut usaha membatiknya tidak merasakan betul dampak pandemi Covid-19 dalam hal pendapatan. Justru sebaliknya, orderan batiknya malah bertambah-tambah.

Yusrizal memutar otak agar sanggar produksi batiknya terus menggeliat. Dia tak ingin larut dengan pandemi yang membatasi semua aktivitas. Mau tidak mau, semua pelaku usaha hari ini, termasuk Yusrizal, harus 'berdamai' dengan pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir.

"Agar tidak vakum, tentu saja kita harus memperbarui cara pemasaran di tengah covid yang semuanya dibatasi, lebih-lebih tatap muka," katanya.

Yusrizal pun menggencarkan sosialisasi produksinya lewat promosi online, khususnya media sosial Facebook dan Instagram. Tak saja menjajal produk, dia juga menawarkan program edukasi ke sanggar Batik Tulis Salingka Tabek.

"Misalnya ada yang berkunjung satu atau dua orang, itu saya promosikan lewat medsos. Nah, dari informasi itulah banyak yang datang ke sini. Akhirnya, proses jual beli berjalan terus dan kami tetap produksi," katanya.

Baca Juga:Transaksi Daring Capai Rp266 Triliun, Bukti Orang Indonesia Gemar Belanja Online

Upaya Yusrizal ternyata manjur. Sanggar produksi batiknya nyaris tak pernah sepi saat pandemi Covid-19. Pesanan pun datang bertubi-tubi. Bahkan omzetnya pun naik sejak pandemi melanda.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini