“Contoh wartawan, profesinya mengamanahkan untuk menyampaikan berita. Kalau asam lambung naik, ia lebih pilih makan dulu, baru menulis berita. Tentu bukan berarti wartawan ini tidak loyal pada profesinya. Tapi ia bertindak rasional, tidak ada berita seharga nyawa,” katanya.
“Tidak hanya di dunia korporasi, di lingkungan pemerintahan bisa juga demikian. Bawahan yang takut kehilangan pangkat dan jabatan, takut kehilangan fasilitas dan tunjangan, tuntutan ekonomi keluarga, mereka akan bertindak rasional dan objektif. Karena itu dalam politik dikenal istilah tidak ada lawan dan kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi,” tegasnya.
Lulusan pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand ini menambahkan, setiap pesan komunikasi yang digaungkan pemerintah sudah pasti menimbulkan reaksi publik.
“Ingat kata Presiden Jokowi saat melantik kabinet, tidak boleh ada visi-misi menteri, yang ada hanya visi-misi Presiden dan Wakil Presiden,” pungkasnya.
Baca Juga:Aturan PNS 2021 Terbaru dari Jokowi: Lapor Harta hingga Tidak Boleh Bolos