- Dinas ESDM Sumbar mengungkap praktik tambang emas ilegal di wilayah tersebut menghasilkan perputaran uang mencapai Rp1 triliun setahun.
- Jaringan tambang ilegal melibatkan toko emas yang menampung dan mengolah hasil tambang secara sistematis untuk dijual kembali.
- Aktivitas ilegal ini merugikan negara melalui hilangnya potensi pendapatan dari pajak serta royalti yang seharusnya dibayarkan resmi.
SuaraSumbar.id - Dinas ESDM Sumbar menyebut peredaran uang dari praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah itu diperkirakan mencapai Rp1 triliun per tahun.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi Heriyanto menilai, aktivitas tambang telah membentuk jaringan yang terogranisir, mulai dari penambang hingga penadah hasil tambang.
"Hasil emas ilegal ini tidak kurang dari Rp1 triliun per tahunnya. Siapa penjual dan siapa pembeli itu ada, ke mana dijual. Ini sudah bisa dikatakan sindikat," katanya, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Helmi, praktik pertambangan ilegal dilakukan secara sistematis. Emas hasil tambang tidak selalu dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi perhiasan sebelum dipasarkan kembali ke masyarakat.
Toko Emas Diduga Ikut Menampung Hasil Tambang Ilegal
Ia mengatakan, sejumlah toko emas diduga ikut menampung hasil tambang ilegal tersebut. Bahkan, ada pihak yang melakukan pengolahan secara pribadi sebelum menjualnya kembali ke pasar.
"Toko-toko emas juga ada yang menampung, mengolah secara pribadi. Menampung atau membeli barang ilegal termasuk penadah,” ujarnya.
Negara Berpotensi Rugi Besar
Selain merusak lingkungan, aktivitas tambang emas ilegal juga menyebabkan kerugian negara dalam jumlah besar. Negara kehilangan potensi pemasukan dari pajak, royalti, dan berbagai kewajiban lain yang seharusnya dibayarkan oleh perusahaan tambang resmi.
“Kalau berbicara soal kerugian, nanti ada hitung-hitungannya. Royalti yang harus dibayarkan, kemudian potensi pemasukan untuk negara berupa pajak maupun royalti,” ucapnya.
Klaim Kantongi Data Jaringan Tambang Ilegal
Terkait pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan tambang emas ilegal di Sumbar, pihaknya mengaku telah memiliki data intelijen mengenai para pemain yang terlibat.
Meski belum mengungkap identitas secara terbuka, pihaknya memastikan data tersebut tengah dipelajari lebih lanjut untuk proses lebih lanjut.
"Nanti kita lihat datanya dulu. Ini merupakan data intelijen kami. Data-data pemainnya ada,” katanya.
Kontributor : B Rahmat
Berita Terkait
-
Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?
-
Pendidikan Dianaktirikan: Mengapa Indonesia Masih Pelit Investasi pada Otak Rakyatnya?
-
Tahan Beli, Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2.635.000 per Gram Hari Ini
-
Daftar Lengkap Harga Jual dan Buyback Emas Pegadaian per 15 Juli 2026
-
Kondisi di MAN 3 Padang Pascaledakan Bom Rakitan
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
PBHI Serahkan Data Baru ke Ombudsman, Soroti Dokumen Kebencanaan Izin Tambang Andesit Kasang
-
Psikolog Ungkap Pencegahan Bullying Tak Cukup dengan Hukuman, Berkaca dari Kasus MAN 3 Padang
-
Siswa MAN 3 Padang Belajar Rakit Bom dari Internet
-
Fakta Siswa Pembawa Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Dikenal Pendiam dan Sering Absen
-
Polisi Ungkap Siswa Pembawa Bom Rakitan di MAN 3 Padang Diduga Korban Bullying