Suhardiman
Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:15 WIB
Ilustrasi daging kurban. (Unsplash/teguhyudhatama)
Baca 10 detik
  • Prof. Novelina memperingatkan masyarakat untuk memisahkan daging kurban dari jeroan guna mencegah kontaminasi bakteri patogen berbahaya.
  • Proses penanganan hewan kurban harus dilakukan secara higienis dengan memperhatikan manajemen waktu pemotongan hingga distribusi daging.
  • Masyarakat disarankan menjaga suhu penyimpanan dan segera mencuci daging untuk menghindari pertumbuhan mikroba akibat paparan lingkungan.

SuaraSumbar.id - Pakar Ilmu Teknologi Pangan, Prof. Novelina, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam proses penyembelihan dan penanganan hewan kurban.

Salah satu hal paling penting yang harus diperhatikan adalah tidak mencampurkan daging kurban dengan jeroan seperti usus, limpa, dan organ dalam lainnya.

"Proses penyembelihan hewan kurban ini mesti dijaga, terutama tidak mencampurkan antara jeroan dengan daging, apalagi sampai terkontaminasi dengan isi usus," katanya melansir Antara, Jumat, 29 Mei 2026.

Menurutnya, jeroan, seperti usus, limpa dan lainnya mengandung bakteri patogen. Jika jeroan pecah dan mengenai daging atau bagian lain bisa terkontaminasi oleh bakteri.

Oleh karena itu, ia menyarankan untuk memperhatikan cara menyembelih yang tepat serta mengutamakan sisi higienis.

Penanganan dan pemisahan jeroan dengan bagian lain ditujukan untuk mengantisipasi potensi kontaminasi bakteri.

Tidak hanya itu, ia juga mengingatkan akan pentingnya memperhatikan manajemen waktu sejak hewan disembelih, dibersihkan, dibagikan hingga dikonsumsi. Sebab, masih cukup banyak ditemukan warga yang tergolong lama membiarkan daging kurban setelah dipotong.

Yang tidak kalah penting ialah memperhatikan suhu ruangan tempat penyembelihan hewan kurban. Sebab, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan mikroba. Perkembangan mikroba dalam daging bisa terhambat ketika suhu di bawah lima derajat Celsius atau suhu di atas 70 derajat Celsius.

Semakin lama daging kurban berada di luar ruangan terbuka, potensi terkontaminasi juga besar. Hal ini bisa berdampak tidak sehat terhadap daging yang akan dikonsumsi. Sebab, selain adanya bakteri dari jeroan, daging juga bisa terpapar bakteri dari lingkungan tempat penyembelihan.

"Jadi, kalau tempat penanganannya tidak bersih, ini bisa menyebabkan daging kurban terkontaminasi," ujarnya.

Ia menyarankan masyarakat yang mendapatkan daging kurban untuk segera mencuci atau membersihkan yang kemudian menyimpannya di dalam freezer. Cara tersebut merupakan salah satu antisipasi agar daging tidak terkontaminasi atau tetap aman dikonsumsi.

Load More