Suhardiman
Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:48 WIB
Ilustrasi daging kurban. (Unsplash/teguhyudhatama)
Baca 10 detik
  • Dokter Pande Putu Agus Mahendra menyatakan penderita hipertensi boleh mengonsumsi daging kurban maksimal 75-100 gram per porsi.
  • Penderita disarankan mengonsumsi sayuran kaya antioksidan dan mencukupi kebutuhan air putih untuk menjaga kestabilan kadar kolesterol.
  • Masyarakat diimbau menghindari lemak, organ dalam, masakan santan berlebih, serta metode pengolahan daging dengan cara dibakar langsung.

SuaraSumbar.id - Konsumsi daging kurban seperti sapi dan kambing menjadi tradisi yang dinantikan banyak keluarga pada Idul Adha. Namun, bagi penderita hipertensi dan kolesterol tinggi, muncul pertanyaan penting apakah aman mengonsumsi daging kurban?

Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia dr. Pande Putu Agus Mahendra, mengatakan bahwa penderita hipertensi tetap boleh menikmati olahan daging kurban asalkan memperhatikan batasan wajar yang dianjurkan.

Pande mengatakan saat mengonsumsi olahan daging baik sapi maupun kambing perlu diperhatikan batasannya pada tiap individu.

“Untuk batasan tiap individu terdapat batasan masing-masing, tapi jika berdasarkan ukuran umum adalah 75-100g/porsi adalah batasan yang dianggap aman untuk konsumsi asupan hewani,” kata Pande, melansir Antara, Jumat, 29 Mei 2026.

Saat mengonsumsi makanan dengan sumber protein hewani seperti daging dapat dikombinasikan dengan sumber antioksidan sebagai pendamping makanan bagi penderita penyakit metabolik, di antaranya yang bisa didapat dari sayuran seperti tomat, lobak, wortel, dan bawang-bawangan.

Ia juga mengingatkan untuk tetap konsumsi air putih yang cukup serta membatasi asupan yang masuk dalam batas wajar untuk mencegah peningkatan kolesterol tubuh.

Dalam pengolahan daging, Pande menyarankan untuk tidak mengonsumsi lemak serta organ dalam dan juga hindari memasak daging dengan cara dibakar.

"Menghindari bagian dari lemak serta konsumsi organ dalamnya dan hindari pengolahan dengan dibakar langsung terpapar api, karena hal tersebut akan merusak komponen protein dari daging tersebut dan menjadi suatu komponen yang dapat mengganggu kesehatan tubuh," ucapnya.

Pande mengatakan hidangan saat Hari Raya Idul Adha juga identik dengan makanan bersantan. Meskipun santan merupakan produk turunan kelapa yang memiliki kandungan minyak nabati, namun saat ini banyak olahan masakan menggunakan santan instan dan bukan asli, sehingga terdapat kandungan Natrium yang tinggi.

Ia mengingatkan sebaiknya makanan bersantan tidak dikonsumsi berhari-hari karena akan memicu peningkatan asupan lemak dan berimbas pada keseimbangan kadar kolesterol tubuh.

Ini juga berlaku pada kebiasaan menghangatkan makanan bersantan yang kurang baik karena proses pemanasan berulang akan semakin merusak komponen lemak nabati dalam santan.

Load More