- Mendag Budi Santoso menyatakan kenaikan harga minyak goreng di pasar dipicu oleh melonjaknya biaya kemasan plastik saat ini.
- Pemerintah menjamin pasokan minyak goreng tetap aman serta mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia pada April 2026.
- Kementerian Perdagangan berkoordinasi dengan produsen dan industri plastik guna menstabilkan harga melalui kelancaran pasokan bahan baku kemasan tersebut.
SuaraSumbar.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui kenaikan harga minyak goreng yang terjadi belakangan ini dipicu oleh melonjaknya harga plastik. Namun demikian, Budi memastikan pasokan minyak goreng aman dan mencukupi.
"Pada prinsipnya stok barang ada, nggak ada masalah. Jadi ketersediaan pasokan ada. Memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik," kata Budi melansir Antara, Rabu, 22 April 2026.
Ia menjelaskan harga Minyakita berada di kisaran Rp15.900 per liter, sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
Sedangkan minyak goreng premium yang dilaporkan di sejumlah daerah mengalami kenaikan signifikan, tercatat Rp21.796 per liter.
Faktor utama kenaikan harga minyak goreng premium bukan berasal dari ketersediaan bahan baku, melainkan dipengaruhi oleh meningkatnya biaya kemasan plastik yang digunakan produsen saat ini.
Pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan para produsen minyak goreng untuk memastikan produksi berjalan normal dan tidak terganggu oleh dinamika harga bahan pendukung seperti plastik kemasan.
Selain itu, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan pelaku industri plastik guna memastikan pasokan bahan baku terjaga melalui skema impor yang diupayakan pemerintah.
Ia berharap upaya tersebut dapat segera menstabilkan harga minyak goreng di pasaran, seiring dengan normalisasi biaya produksi kemasan plastik yang menjadi salah satu komponen penting dalam distribusi produk.
Pemerintah tidak hanya fokus pada komoditas minyak goreng, tetapi juga memperhatikan faktor hulu seperti industri plastik yang berpengaruh langsung terhadap harga akhir di tingkat konsumen.
Jika produksi plastik kembali normal dan distribusinya lancar, maka pelaku usaha di sektor hilir diharapkan dapat menyesuaikan harga agar lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
Berita Terkait
-
Mendag Busan Resmi Tutup TEI ke-41, Potensi Transaksi Capai USD 22,94 Miliar
-
812 Situs PBK Ilegal Diblokir, Pemerintah Ingatkan Trader Jangan Tergiur Cuan
-
RI Kejar Tanda Tangan Dagang dengan Uni Eropa, Target Berlaku 2027
-
Bulog Belum Dapat 100% Kuota, Minyakita Masih Rp20 Ribu
-
Harga Minyak Tembus US$100, Neraca Dagang RI Terancam Jebol
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Satpol PP Padang Pariaman Tertibkan Kafe Karaoke-Kedai Tuak, Sejumlah Barang Bukti Disita
-
Kinerja Solid dan Inovasi Digital Antar BRI Raih 4 Penghargaan Bergengsi
-
Ini Makanan Kaya Serat yang Bantu Turunkan Kolesterol
-
Bareskrim Tetapkan 20 Koperasi Jadi Tersangka Karhutla
-
Terjepit di Sela Tiang Rumah Selama 2 Jam, Perempuan 19 Tahun di Padang Dievakuasi Damkar