- Tren Whip Pink menyebar karena FOMO dan tekanan pergaulan remaja.
- Remaja ikut tren demi diterima, sering mengabaikan risiko kesehatan serius.
- Gas tertawa nitrous oxide disalahgunakan, viral lewat media sosial remaja.
SuaraSumbar.id - Tren gas tertawa Whip Pink belakangan menjadi sorotan publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Fenomena ini tidak hanya memicu kekhawatiran soal penyalahgunaan zat, tetapi juga menyoroti kuatnya pengaruh tren digital terhadap perilaku remaja.
Di tengah masifnya arus informasi, Tren gas tertawa Whip Pink muncul sebagai contoh bagaimana konten viral dapat dengan cepat diadopsi oleh remaja.
Dorongan untuk tampil selaras dengan lingkungan pertemanan kerap membuat mereka mengikuti tren tanpa pemahaman menyeluruh mengenai risikonya.
Psikolog menilai Tren gas tertawa Whip Pink tidak dapat dilepaskan dari fenomena fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari apa yang sedang populer di kalangan teman sebaya, terutama di era media sosial yang serba cepat. Berikut fakta-faktanya.
1. Remaja Mengikuti Tren Demi Diterima Lingkungan
Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, S.Psi., menjelaskan bahwa kebutuhan diterima oleh teman sebaya menjadi faktor utama remaja mengikuti tren yang sedang populer.
“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu, dikutip dari Antara, Jumat (30/1/2026).
2. FOMO Mendorong Perilaku Ikut-Ikutan
Fear of missing out (FOMO) membuat remaja merasa harus terlibat dalam tren agar tetap merasa relevan dengan lingkungan sosialnya.
Paparan tren yang terus muncul di media sosial memperkuat tekanan psikologis untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dianggap “normal” di kalangan pertemanan.
3. Rasa Ingin Tahu Tinggi di Masa Pencarian Identitas
Ayu menyebut masa remaja merupakan fase pencarian identitas diri yang kuat, sehingga berbagai tren dianggap sebagai sarana eksplorasi.
“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambahnya.
4. Gas Tertawa Berasal dari Zat Medis
Gas tertawa diketahui sebagai nitrous oxide (NO2), zat yang digunakan secara medis sebagai anestesi.
Berita Terkait
-
5 Kompor Gas Tanam 2 Tungku yang Hemat dan Anti Pecah untuk Dapur Elegan
-
Harga Kompor Gas Tanam Berapa? Ini Kisaran dan 5 Rekomendasi Merek Terbaik
-
Tips Menyikapi Berita Buruk Menurut Psikolog agar Tetap Tenang dan Gak Panik
-
9 Merk Kompor Gas 2 Tungku Terbaik Sesuai Kebutuhan Rumah Tangga
-
Mengenal Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
Sidang Yogi Gilang Arya: Internet Jadi Kasus Hukum Justru Dipakai Polres Mentawai
-
BRI Dorong Akses Hunian, Perkuat Sinergi Ekosistem Perumahan di Jakarta
-
Jangan Lewatkan Promo BRI Kartu Kredit untuk Jus Buah Boost, Diskon 25% dengan Tap to Pay
-
BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026
-
Ingin Pensiun Nyaman? Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo