SuaraSumbar.id - Kasus narapidana keracunan minuman keras (miras) oplosan Lapas Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), kembali menyita perhatian publik usai jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi empat orang.
Kejadian tragis ini melibatkan puluhan orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIA Bukittinggi yang sebelumnya mengkonsumsi minuman oplosan dari alkohol 70 persen.
Direktur RS Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, dr. Busril, membenarkan bahwa korban terakhir yang dirawat intensif di ruang ICU akhirnya meninggal dunia pada Selasa (6/5/2025) pukul 03.01 WIB.
Korban berinisial D telah diserahkan ke keluarga dan dimakamkan di daerah asalnya di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.
"Benar, pasien terakhir yang kami rawat di ICU tidak dapat diselamatkan," ujar Busril, Selasa (6/5/2025).
Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat miras oplosan di Lapas Bukittinggi kini berjumlah empat orang.
Sebelumnya, sebanyak 23 narapidana sempat dilarikan ke dua rumah sakit di Bukittinggi sejak Rabu (30/4/2025). Dari jumlah tersebut, satu orang dinyatakan meninggal di RSUD Bukittinggi, dan tiga lainnya, termasuk korban terbaru, meninggal di RSAM. Sementara 19 narapidana lainnya telah dinyatakan sembuh dan kembali ke Lapas.
Penyidikan Masih Berjalan, 24 Saksi Diperiksa
Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bukittinggi masih terus menyelidiki penyebab keracunan narapidana tersebut. Kasatreskrim Polresta Bukittinggi, AKP Idris Bakara, mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya telah meminta keterangan dari 24 orang saksi, termasuk tiga petugas Lapas.
“Saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Kami masih melakukan pendalaman terhadap kronologi dan asal usul alkohol yang digunakan,” jelas Idris.
Lebih lanjut, Idris mengungkapkan bahwa alkohol 70 persen yang digunakan oleh narapidana merupakan bahan untuk membuat parfum. Bahan tersebut kemudian diolah secara ilegal menjadi minuman keras oleh oknum narapidana.
“Benar, alkohol itu disalahgunakan oleh napi. Mereka mengonsumsinya pada 29 April dan mulai merasakan dampaknya pada keesokan harinya,” tambah Idris.
Alkohol 70 Persen
Pihak berwenang menduga kuat bahwa alkohol yang semestinya digunakan sebagai bahan antiseptik atau pembuatan parfum tersebut dicampur dengan zat lain dan dikonsumsi secara bersama-sama oleh sekelompok narapidana. Kandungan berbahaya dari alkohol industri ini menyebabkan gangguan fungsi organ vital hingga kematian.
Miras oplosan di Lapas Bukittinggi ini menambah daftar panjang kasus serupa yang menelan korban jiwa di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus minuman oplosan mematikan kerap terjadi, baik di kalangan masyarakat umum maupun lingkungan tertutup seperti lembaga pemasyarakatan.
Berita Terkait
-
Pesta Miras Oplosan Tewaskan 2 Napi, Legislator Demokrat Desak Kalapas Bukittinggi Dicopot!
-
Apotek Dilarang Bebas Jual Alkohol Murni
-
Pesta Miras Oplosan Berakhir Tragis, Empat Warga Bogor Meninggal Dunia
-
Catat! Ini 5 Bahaya Miras Oplosan, Salah Satunya Gangguan Penglihatan
-
Pensiunan Polisi Dalang Jual Miras Oplosan Maut di Subang, Ini Sosoknya
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
BRI Hadirkan Semarak Merah Putih di Desa BRILiaN Balbar Sofifi, UMKM Turut Rasakan Manfaatnya
-
Warga Agam Temukan Tengkorak-Tulang Manusia di Sawah, Diduga Korban Bencana
-
Sumbar Kirim 2,1 Ton Rendang ke NTT
-
Kisah Haru PMI Yuni, BRI Pertemukan dengan Ibunya Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan
-
BRImo Taiwan, Langkah BRI Dekatkan Layanan Kepada Pekerja Migran Indonesia