Scroll untuk membaca artikel
Riki Chandra
Kamis, 18 Juli 2024 | 12:55 WIB
Festival Maek di Limapuluh Kota resmi dibuka. [Dok.Istimewa]

Direktur Festival Donny Eros, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perhelatan ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Ia bersama para kurator: Zulkarnaini Diran, Aprimas, Eka Maryanti, Zuari Abdullah, dan S.Metron Masdison, butuh waktu bertahun-tahun menyiapkannya. Dimulai dari 10 tahun yang lalu hingga sekarang.

Baginya, Lembah Maek, ibarat permata tersembunyi yang menyimpan kisah-kisah agung dari peradaban kuno.

"Melalui riset yang penuh ketekunan dan semangat, kami berhasil menyibak tabir misteri yang menyelimuti artefak-artefak, struktur-struktur megah, serta jejak-jejak kehidupan yang memberi kita gambaran akan kekayaan masa lampau," kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand itu, Rabu (17/07/2024).

Ia juga berterima kasih pada masyarakat Maek, yang dengan kehangatannya dengan senang hati bekerja sama.

Festival ini turut menghasilkan dua buku dari empat orang seniman. Mereka adalah Iyut Fitra dan Yudilfan Habib yang menulis "Maek Memantul Dalam Puisi dan Prosa."

Serta Widi Adrianto dan Satria Putra dalam karya, "Maek Cerita Dibalik Sketsa."

Para seniman yang sudah berkontemplasi selama berbulan-bulan dengan alam Maek ini akan mempresentasikan karya-karya mereka dalam sesi diskusi di hari kedua.

Mereka bakal membahas berbagai hal terkait karya yang dihasilkan mulai dari proses hingga siasat dan strategi mereka ketika hendak merespon Maek secara kreatif.

"Kami berharap, buku ini bukan sekadar panduan, namun juga menjadi jendela yang membuka cakrawala pengetahuan dan inspirasi bagi Anda semua," ucap Donny.

Load More