SuaraSumbar.id - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mengungkapkan bahwa sistem resi gudang dapat meningkatkan kemajuan ekspor dan hilirisasi gambir dari Sumbar melalui mekanisme perdagangan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006.
"Sumbar ini penghasil gambir terbesar di Indonesia dan kita harapkan melalui sistem resi gudang, nilai jual gambir jauh lebih menguntungkan petani Sumbar," kata Kepala BI Perwakilan Sumbar, Endang Kurnia Saputra, dikutip Senin (3/6/2024).
Meskipun tanaman bernama Latin genus uncaria tersebut umumnya berasal dari Provinsi Sumbar, namun bisa dikatakan saat ini lebih dikuasai oleh orang-orang Asia Selatan, terutama India.
Sebab, sekitar 76 persen gambir asal Sumbar diekspor ke India, Pakistan dan Bangladesh. Sehingga harganya bukan seller market tapi buyer market, kata Kepala BI Sumbar.
"Jadi, penguasaan harga gambir ini tidak pernah membuat petani memiliki nilai tukar petani yang jauh lebih baik," katanya.
Ia menyakini apabila komoditas gambir dimasukkan ke dalam sistem resi gudang, maka setiap petani memiliki kekuatan tawar-menawar yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Eks Deputi Kepala BI Perwakilan DKI Jakarta tersebut menyampaikan sistem resi gudang sangat menguntungkan para petani karena dapat mengontrol langsung kapan komoditasnya dijual.
Artinya, saat harga suatu komoditas rendah maka petani bisa menyimpannya di gudang. Namun, apabila harganya sudah naik maka petani bisa menjualnya. Sayangnya, lima resi gudang yang ada di Sumbar hingga kini belum berjalan optimal.
"BI akan memfasilitasi pembiayaan atau sistem resi gudang karena kami sangat yakin ini akan berjalan baik, minimal satu komoditas dulu misalnya gabah," kata Kepala BI Kepala Perwakilan Sumbar.
Di satu sisi, Adang sapaan akrabnya, mengungkapkan sistem resi gudang belum sepenuhnya berjalan optimal terutama di Ranah Minang. Salah satunya dipengaruhi oleh pembiayaan perbankan yang masih terbatas.
Oleh karena itu, BI Sumbar berharap bank himpunan bank milik negara termasuk bank milik Pemerintah Provinsi Sumbar berani untuk memulai bisnis resi gudang yang dinilai memiliki potensi besar.
Endang menilai selama ini pihak bank lebih berani memberikan pinjaman kepada pengusaha besar atau aparatur sipil negara (ASN). Sementara, pinjaman kepada petani terutama nelayan, dinilai masih tergolong kecil.
"Padahal, apabila sistem resi gudang dimaksimalkan maka risiko-risiko dari debitur atau yang meminjam uang ke bank dapat dikurangi," kata dia. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Benarkah TikTok Tutup Tokopedia dan Diganti TikTok Shop? Ini Penjelasanya
-
CEK FAKTA: Prabowo Marah Luhut Main Proyek IMIP, Benarkah?
-
5 Lipstik Lokal Awet dan Tahan Lama, Harganya Nggak Bikin Kantong Jebol!
-
10 Warna Lipstik Tren 2026, Pilihan Favorit dari Natural hingga Edgy
-
Ribuan Warga Agam Masih Tinggal di Pengungsian, Tersebar di Tiga Kecamatan