SuaraSumbar.id - Pusat Krisis Kesehatan (Puskris) memobilisasi Emergency Medical Team (EMT) untuk menangani berbagai dampak kesehatan yang timbul akibat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar).
Selain membuka pos kesehatan, Puskris juga melakukan pendampingan untuk mengoptimalkan fungsi pusat operasi krisis kesehatan.
"Kami membuka pos kesehatan dan melakukan pendampingan untuk optimalisasi Health Emergency Operation Center (HEOC) dengan mengirim sumber daya manusia yang diperlukan untuk perencanaan, pelaksanaan dan pendataan di lapangan. Juga menyiapkan bantuan obat-obatan dan pemberian makanan tambahan," Kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Nasional, Sumarjaya, Senin (18/3/2024).
Sumarjaya menjelaskan, EMT Sumbar khusus diturunkan ke lokasi bencana yang menyebabkan 119.228 orang terdampak dengan korban jiwa sebanyak 25 orang, masih dalam pencarian 4 orang, serta 74.934 orang mengungsi.
Kejadian tersebut juga menyebabkan 94 fasilitas pelayanan kesehatan mengalami kesulitan beroperasi, sementara berbagai jenis penyakit dirasakan masyarakat seperti ISPA, hipertensi, demam, penyakit kulit, rematik, alergi, gastritis dan dermatitis.
Kondisi darurat ini terjadi setelah hujan intensitas tinggi pada tanggal 7 Maret 2024 pukul 16.30 WIB. Akibatnya terjadi banjir dan tanah longsor di 15 Kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, meliputi Kecamatan XI Koto Terusan, IV Jurai, Batang Kapas, Bayang, Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir, Linggo Sari Baganti, Basa Ampek Balai Tapan, Ranah Ampek Hulu Tapan, Lunang, IV Nagari Bayang Utara, Pancung Soal, Air Pura, dan Silaut.
"Sampai dengan saat ini, penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Pesisir Selatan pada bidang kesehatan terus dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis kesehatan dengan dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kementerian Kesehatan," ujar Sumarjaya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi (Sumbar), Lila Yanwar menjelaskan, sejak awal tim Bencana Dinkes langsung turun ke lapangan untuk melihat dampak bencana terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Antara lain peralatan dan kondisi para petugas kesehatan.
"Kami usahakan fokus pada back up berkelanjutan terhadap fasilitas kesehatan yang ada, siapa yang bisa bantu di lapangan, dan bagaimana kondisi di lapangan yang akan berdampak pada kesehatan," ujar Lila.
Dia menambahkan, sampai saat ini kebutuhan yang perlu dibantu antara lain pakaian dalam untuk para perempuan, pampers, selimut, kompor, termos, bahan makanan, air bersih yang dapat diminum, dan membersihkan bangkai-bangkai hewan yang masih berserakan.
Khusus untuk bayi dan anak-anak di bawah usia lima tahun, dibutuhkan bantuan bahan makanan khusus dan disinfektan. Untuk itu pihaknya berkoordinasi dengan berbagai pihak yang siap mendukung.
"Kami sangat berterima kasih pada Puskris atas respon yang sangat cepat untuk membantu di lapangan. Hari ketiga Puskris sudah turun di lapangan sehingga kami sangat terbantu. Selain membawa obat-obatan, Puskris juga memberi arahan untuk pergerakan di lapangan dan memperkuat tim yang sudah ada," tambahnya.
Ke depan, Dinkes Sumbar akan menyisir ulang data-data di lapangan terkait kondisi kesehatan masyarakat termasuk kesehatan anak. Kami juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk membantu pemeriksaan kesehatan di lapangan.
Kontributor: Saptra S
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Buyback Rp500 Miliar Digelar Hingga September 2026, BRI Pastikan Modal Tetap Solid
-
Petani di Pulau Simeulue Aceh Tunda Penanaman Padi, Kenapa?
-
Heboh Teror 'Pocong Begal' di Solok, Polisi Bilang Hoaks
-
JEMBATAN Soroti Persekusi Mahasiswa di PNJ dan UNP: Kampus Harus Jadi Ruang Aman Bebas Diskriminasi
-
Mau Mendaki Gunung? Ini Panduan yang Wajib Anda Ketahui