SuaraSumbar.id - Gerakan nasional Bulan Cinta Laut (BCL) memacu semangat nelayan ikut aktif memungut sampah di pesisir laut Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Mereka berlomba-lomba mengumpulkan berbagai ragam sampah yang diseret ombak setiap hari dan menumpuk di pinggiran laut.
Pagi itu, Selasa (5/12/2023), sekitar pukul 06.50 WIB, delapan orang nelayan sudah beraktivitas di kawasan ujung jalur dua pantai Padang. Empat pria tampak berbincang akrab dekat tumpukan ban mobil bekas dan sampah plastik di bawah jembatan ujung Pantai Muaro Lasak, Kelurahan Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat.
Di bibir pantai yang berjarak sekitar 10 meter dari jembatan, tiga nelayan lainnya sedang bersiap-siap melaut mencari ikan menggunakan perahu dayung. Seorang nelayan lagi sedang menggaruk sampah plastik di pinggir pantai tersebut. Sampah langsung dipilah dan disusun sesuai jenisnya di bawah jembatan.
"Pukul 6 pagi kami sudah di sini (pantai Padang). Melaut mencari ikan dan memungut sampah di pinggir pantai. Ini aktivitas rutin saya sejak dua tahun terakhir," kata nelayan bernama Abadi (61) kepada SuaraSumbar.id.
Abadi salah satu penggerak budaya bersih sampah laut di ujung Pantai Muaro Lasak Padang. Ia adalah Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Saiyo Sakato Mandiri yang memiliki 13 orang anggota aktif.
"Walau sudah berumur 60 tahun lebih, semangat ketua kami (Abadi) jangan ditanya. Makanya pantai ini bersih dari sampah setiap hari," timpal Irianto (52), nelayan yang duduk di bawah jembatan.
"Alhamdulillah, masih diberi kekuatan dan kesehatan," kata Abadi menyambung perbincangan.
Sudah 26 tahun lamanya lelaki tamatan SMP itu jadi nelayan di Kota Padang. Ia mengaku kebiasaannya memungut sampah telah berlangsung sejak tahun 1997. Namun, saat itu, sampah-sampah yang dikumpulkan hanya yang terbawa jaring atau pukek (pukat) ke tepian saat menangkap ikan.
"Dulu, sampah dibakar saja di pinggir pantai. Sekarang tidak, semua sampah bisa jadi uang," katanya.
Semangat Abadi mengumpulkan sampah laut kian tumbuh sejak hadirnya gerakan nasional Bulan Cinta Laut (BCL) 2022 lalu. Apalagi, gerakan BCL juga mengapresiasi pelaku pengumpul sampah dengan berbagai program. Kemudian, muara dari sampah yang dikumpulkannya pun jelas hingga menghasilkan manfaat bagi nelayan yang memungutnya.
"Sebelum berkelompk pun saya sudah aktif memungut sampah di pinggir laut. Kelompok Nelayan Saiyo Sakato Mandiri ini saya dirikan bersama kawan-kawan tahun 2020. Sebelumnya nama kelompok kami Marcopolo, vakum 2016, sejak pembangunan jembatan ini," katanya.
Sudah dua tahun lamanya anak veteran TNI itu rutin mengumpulkan sampah laut di kawasan pantai sepanjang 300 meter. Pagi hari dikumpulkan, sampah lalu dikeringkan di bawah jembatan dan sorennya ditimbang hingga diangkut ke dua tempat berbeda. Ada yang dikirim ke Bank Sampah Pancadaya, ada pula yang dijual ke program "Nabuang Sarok" (Nabung Sampah) Semen Padang. Dua tempat penampungan sampah nelayan itu merupakan kerjasama gerakan BCL yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolobarasi dengan Pemprov Sumbar dan Pemerintah Kota Padang.
Setelah dikumpulkan, kata Abadi, sampah dipilah sesuai jenisnya. Sampah plastik, daun kering, batok kelapa, ranting kayu, kain-kain bekas hingga sandal-sandal karet, dikirim ke "Nabuang Sarok". Sementara, sampah botol air mineral, kaleng susu, kardus bekas dan sejenisnya, dijual ke Bank Sampah Pancadaya.
"Semua sampah menghasilkan. Ada yang berupa emas, ada pula berupa hadiah. Yang kami bakar hanya sampah-sampah kayu lapuk, sisa makanan hingga paku-paku berkarat," katanya.
Di program "Nabuang Sarok", setiap sampah yang dikirimkan nelayan akan dihargai dengan poin. Nanti, poin-poin tersebut ditukarkan dengan berbagai hadiah, seperti rice cooker, setrika, kompor gas dan sebagainya. Sedangkan di program Bank Sampah Pancadaya, setiap sampah ditukarkan dengan emas.
Tag
Berita Terkait
-
Tak Berizin, KKP Musnahkan 796 Kg Kulit Hiu dan Pari Milik Perusahaan Asing di Banyuwangi
-
Usai Pingsan Saat Upacara Duka, Kondisi Menteri Trenggono Berangsur Pulih
-
Momen Haru Pelepasan Jenazah Korban Pesawat ATR-42-500, Menteri KKP Sempat Pingsan
-
Menteri Trenggono Ikut Presiden ke London dan Davos Sebelum Pingsan, Tapi Besok Sudah Ngantor
-
3 Pegawai KKP di Pesawat yang Hilang Kontak Tengah Jalani Misi Pemerintah
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Terkini
-
5 Lipstik Lokal Awet dan Tahan Lama, Harganya Nggak Bikin Kantong Jebol!
-
10 Warna Lipstik Tren 2026, Pilihan Favorit dari Natural hingga Edgy
-
Ribuan Warga Agam Masih Tinggal di Pengungsian, Tersebar di Tiga Kecamatan
-
5 Lipstik Merah Favorit Taylor Swift, Berapa Harganya?
-
Erupsi Gunung Marapi Tak Ganggu Penerbangan, Ini Penjelasan BIM