Dari pantauan SuaraSumbar.id, mereka yang berdesakan di dalam kelenteng berasal dari berbagai etnis dan agama. Semua terlihat dari warna kulit hingga pakaian yang digunakan. Selain warga etnis Tionghoa, perempuan-perempuan berjilbab juga meramaikan pesta menyambut Tahun Baru Imlek itu.
Menariknya, ciloteh dari sudut ke sudut kelenteng tetap berbahasa Minang. Hanya sesekali terdengar percakapan berbahasa Cina ketika warga keturunan itu mengobrol sesama mereka.
Sebuah tarian tradisi Cina mengiring kemeriahan malam itu. Tarian itu dibawakan oleh 4 perempuan cantik berpakaian khas Tionghoa. Mereka menari menggunakan selendang di tengah anak-anak dan orang dewasa yang mengitarinya. Momentum keakraban antar etnis betul-betul terasa dalam pertunjukan kesenian itu. Di tengah antusiasme masyarakat, banyak juga yang sibuk mengabadikan momen lewat telepon pintar.
Setelahnya, satu persatu barongsai hingga pertunjukan naga muncul menghibur pengunjung. Barongsai merupakan tarian tradisional asal Cina menggunakan sarung menyerupai singa yang sudah dikenal luas masyarakat dunia. Paling tidak, ada tiga kali atraksi berlangsung dengan warna barongsai berbeda hingga 22.35 WIB malam itu.
Di tengah keriuhan pesta atraksi budaya Tionghoa, pengunjung bernama Wulan Novita mengerang kesakitan. Ibu jari kakinya tertimpa papan karangan bunga yang berjejer di bagian luar pagar Kelenteng See Hin Kiong. Semua terjadi lantaran sebagian pengunjung berdesakan naik ke atas pagar hingga menyenggol papan karangan bunga sampai terjatuh.
"Pertama melihat barongsai, kuku kaki saya copot. Tapi tahun depan saya akan lihat lagi," katanya seminggu setelah kejadian dan menjalani operasi ringan.
Cap Go Meh Berbaur dengan Kearifan Lokal
Dalam catatan sejarah, kemeriahan Imlek dan kebebasan perayaan Cap Go Meh di Tanah Air tidak terlepas dari peran Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dijuluki "Bapak Tionghoa Indonesia". Dialah tokoh yang menyelesaikan konflik diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di republik ini.
Lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur memberikan kebebasan etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka. Setelahnya, di tahun 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menjadikan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional hingga saat ini.
Baca Juga: Kasus Curanmor di Padang, Hasil Curian Dijual ke Pertambangan dan Perkebunan
Warga Tionghoa biasanya membersihkan rumah-rumah mereka saat menyambut Imlek. Kemudian, mereka berziarah ke makam orang tua yang telah meninggal hingga menyambangi rumah kerabat dan kawan lama. Hakikat Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa merupakan silaturahmi yang menandai pergantian musim di tahun Lunar. Mereka juga berkumpul bersama keluarga besar hingga berharap kehidupan kian membaik dari tahun-tahun sebelumnya.
Puncak perayaan Imlek diakhiri dengan Festival Cap Go Meh pada hari Minggu (5/2/2023). Pesta keberagaman ini menjadi kejutan bagi masyarakat Sumbar, khususnya di Kota Padang. Pasalnya, ini kali pertama Cap Go Meh kembali digelar meriah setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020 silam.
"Festival Cap Go Meh ini perdana digelar kembali setelah pandemi Covid-19. Saya senang sekali menyaksikan antusiasme masyarakat," kata tokoh Tionghoa Sumbar, Albert Hendra Lukman kepada SuaraSumbar.id, Senin (27/2/2023).
Penasehat Panitia Festival Cap Go Meh 2023 itu mengatakan, festival bertema "Cap Go Meh adalah Kita" itu, tidak saja mengeksplor kebudayaan Tionghoa. Beragam seni tradisi Nusantara juga disajikan dalam pertunjukan yang melibatkan sekitar 3.000 orang itu. Ada Fire Dance dari Bali, Reog Singo Budoyo dari Dharmasyara, hingga pertunjukan randai khas Minangkabau.
Seluruh komunitas Tionghoa di Padang ambil bagian dalam kegiatan kebudayaan itu. Mulai dari perkumpulan sosial Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT), PSKP Santo Yusuf hingga Ji Se atau sembilan perkumpulan, ambil bagian dalam festival Cap Go Meh. Puncak atraksinya adalah pertunjukan arak-arakan sipasan dari Jembatan Siti Nurbaya hingga ke Kota Tua. Semua atraksinya sukses terselenggara.
"Festival Cap Go Meh ini merupakan salah satu iven yang tercatat dalam kalender wisata Sumbar. Kegiatannya berlangsung berkat kerjasama dengan Pemprov Sumbar," katanya.
Berita Terkait
-
Sebut Mahyeldi-Audy Gagal Pimpin Sumbar, Mahasiswa Demo hingga Singgung Proyek Mangkrak
-
Detik-detik Video Anak Korban Pencabulan di Sumbar Kena Intimidasi, Dipaksa Bersumpah Pakai Al-quran
-
Program Perhutanan Sosial di Sumbar Dituntut Jadi Lokomotif Perekonomian Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan
-
Bingung Ditakutin AKBP Dody, Eks Kapolda Sumbar Teddy Minahasa: Saya Seperti Genderuwo?
-
Sebut Sudah Naik Penyidikan, Ini Penjelasan Polda Sumbar Soal Dugaan Kasus Pelecehan Seksual di Unand
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dari Prompt hingga Strategi Bisnis, Buku Baru Dr. Dini Fronitasari Sasar Pelaku UMKM
-
IHR Merdeka Cup dan Sarga Festival Hadir di Sumatera Barat, Rayakan Semangat HUT ke-81 RI
-
WN India Ditangkap Polda Sumbar, Jual Emas dari Tambang Emas Ilegal ke Malaysia
-
BRI Borong Enam Penghargaan di Asia's Best Companies dan Finance Asia Awards 2026
-
Truk Rem Blong Kecelakaan di Silaing Bawah, Satu Korban Terjepit