Scroll untuk membaca artikel
Riki Chandra
Selasa, 13 Desember 2022 | 18:06 WIB
Ketua DPRD Sumbar Supardi (tengah) saat berbincang saat Festival Keragaman Kopi di Agamjua Art and Culture Kafe di Kota Payakumbuh. [Dok.Istimewa]

“Dalam Festival Keberagaman Kopi, kita banyak mendapat, baik pengetahuan juga jejaring.” tambah Anggun, satu-satunya barista perempuan.

“Saya suka dengan adanya Festival Keberagaman Kopi ini, rasa penasaran saya terobati, di samping itu pengetahuan akan kopi, bertambah. Apalagi ragam kopi lokal, saya jadi mengetahui jenis, variannya.” Terang David pengunjung dan penikmat kopi.

Festival Keberagaman Kopi ditutup dengan beberapa demo dari Barista-Barista yang akan mengeluarkan ragam aroma kopi Sumbar. Mulai dari aroma lokal maupun aroma yang telah dimodifikasi.

“Ada beberapa kendala dalam merosting kopi, bagi peserta, bisa saja disebabkan oleh musim, durasi penjemuran, pemisahan biji hitam yang tidak telaten, sehingga mengakibatkan cita rasa terganggu. Permasalahan seperti ini yang semestinya kita entaskan dari hulu hingga ke muara. Bagaimana proses kopi bekerja sesuai standar yang ada," kata Allan Arthur, salah seorang juri rasa kopi.

Baca Juga: Galanggang Silek Tradisi, Jalan Mengembalikan Identitas Budaya Minangkabau

“Dengan adanya ivent-ivent seperti ini, kita sebagai pelaku, bisa terus bersinergi dengan petani lokal, bersama berkembang, menikmati proses, melalui kendala yang ada, baik dari hulu maupun muara, seperti kopi yang selalu diseduh dengan sepenuh hati. Dan semakin menyakini bahwa kopi kita akan mendapat tempat di Nusantara bahkan dunia” ungkap Mukhtar Dahari, pemenang Kategori Arabika, juga owner Kopi Minang Singgalang.

Load More