Silvia pun menekuni dunia merajut. Dia bergabung dengan sejumlah komunitas merajut di Kota Padang. Belajar lewat online melalui grup-grup Facebook hingga mengikuti kegiatan UMKM di kelurahan. Ide-idenya membuat produk rajutan makin berkembang.
"Awal-awal dulu, saya bikin sarung handphone, sarung galon hingga kotak tisu. Harganya mulai dari Rp 5 ribu," katanya.
Hasil rajutan Silvia dipromosikan ibunya saat pergi ke pengajian. Secara berangsur, banyak yang memesan hingga Silvia merasakan berkah hasil berjualan karya rajutannya sendiri.
Akhirnya berdiri "Silvia Piobang Handycraft". Merek usahanya diambil dari namanya sendiri dengan nama kampung halamannya; Nagari Piobang yang berada di Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Merek dagang Silvia juga telah dipatenkan dan terdaftar sebagai Hak kekayaan intelektual (HKI) di Kemenkumham RI sejak 2020 lalu.
Baca Juga: Realisasi PAD Agam Capai Rp 126,65 Miliar
Silvia Piobang Handycraft menyediakan ragam produk rajutan. Mulai dari tas, sepatu, sendal, peci dan aksesoris lainnya. Semua produksi itu merupakan hasil jahitan tangan Silvia. "Tiap hari. Kadang di kamar, kadang di luar. Pokoknya produksi jalan terus," katanya.
Merajut kini tak sebatas hobi, tetapi menjadi tumpuan utama kehidupan Silvia dan ibunya. Harga produksi rajutannya tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Tas yang paling murah dijual Rp 90 ribu. Ada juga yang harganya ratusan ribu, apalagi sepatu dan sandal.
"Ini pemasukan utama saya satu-satunya. Ibu tidak bekerja lagi," katanya.
Usaha rajutan Silvia mulai kembali menggeliat sejak 5 bulan terakhir. Sejak September 2021, dia tidak memproduksi lantaran permintaan pembeli tidak ada.
"Tahun pertengahan pandemi Covid-19 itu benar-benar tidak ada penjualan. Produksi pun saya hentikan. Alhamdulillah sekarang pelanggan lama sudah belanja lagi. Paling tidak, omzet sekitar Rp 3 juta sebulan. Cukuplah buat hidup saya dan ibu," tuturnya.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Pemkab Agam Gelar Pasar Murah, 6.400 Paket Disediakan
Awal pandemi Covid-19 melanda, usaha rajutannya sempat beromzet hingga Rp 8 juta sebulan. Kebetulan saat itu orang-orang, terutama perempuan butuh strap masker dengan jumlah yang banyak. "Alhamdulillah. Kehidupan saya dan ibu berlanjut berkat hasil rajutan," katanya.
Berita Terkait
-
PT KAI Datangkan 12 Unit Kereta Baru untuk Perkuat KA Pariaman Ekspres
-
Kulineran di Pariaman? Ini 4 Kuliner Andalan yang Harus Dicicipi!
-
Besaran Zakat Fitrah Kota Padang 2025, Lengkap dengan Besaran Fidyah
-
Jadwal Buka Puasa Kota Padang Hari Ini, Jumat 14 Maret 2025
-
Jadwal Imsak Kota Padang, Jumat 14 Maret 2025
Tag
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
-
Donald Trump Resmi Umumkan Tarif Baru, Ekonomi Indonesia Terancam Kena Dampak!
Terkini
-
2 Tewas dalam Kecelakaan Maut di Jalan Alternatif Bukittinggi-Payakumbuh saat Lebaran
-
Harunya Lebaran 2025 di Balik Jeruji: Narapidana Lapas Padang Melepas Rindu dengan Keluarga
-
Lebaran Aman dengan BRI: Hindari Penipuan dan Kejahatan Siber
-
BRI Berkontribusi dalam Konservasi Laut Gili Matra Melalui Program Menanam Grow & Green
-
Nikmati Keandalan BRImo: Transaksi Tanpa Hambatan Selama Lebaran 2025