SuaraSumbar.id - Nurani Perempuan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat kasus kekerasan pada perempuan dan anak meningkat selama tahun 2021. Tahun 2020, Nurani Perempuan menangani sebanyak 94 kasus, sedangkan pada 2021 sebanyak 104 kasus.
"Pada periode 2020 dan 2021 ini, kasus kekerasan seksual berada pada posisi tertinggi, yaitu tahun 2020 kasus kekerasan seksual sebanyak 59 kasus sedangkan 2021 sebanyak 55 kasus," kata Direktur Nurani Perempuan, Rahmi Merry Yenti, dikutip dari Covesia.com - jaringan Suara.com, Rabu (5/1/2022).
Merry mengatakan, setelah kekerasan seksual, ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang juga pada angka yang cukup tinggi, yaitu pada 2020 sebanyak 32 kasus sedangkan 2021 meningkat menjadi 47 kasus.
"Hal ini menggambarkan bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat sosialisasi primer bagi anak, namun saat ini rumah menjadi pusat terjadinya kekerasan," jelasnya.
Nurani Perempuan melihat bahwa kasus pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender online (KBGO) juga meningkat pada tahun 2021.
Kekerasan berbasis gender online atau lebih familiar dengan sebutan KBGO sama seperti kekerasan berbasis gender di dunia nyata, namun tindak kekerasan tersebut memiliki maksud melecehkan korban berdasarkan gender atau seksual dengan menggunakan fasilitas teknologi.
Menurutnya, kasus KBGO sulit untuk berlanjut ke proses hukum, karena UU yang digunakan adalah UU ITE. Apabila ditemukan yang mengirimkan foto-foto atau video dengan konten pornografi tersebut adalah perempuan yang menjadi korban, maka korban akan dijerat dengan pasal UU Pornografi.
Sehingga akan terjadi kriminalisasi terhadap korban. Pada kasus KBGO ini perspektif aparat penegak hukum masih lemah, sehingga sering terjadi victim blaming. Kasus ini memberikan dampak yang sangat buruk pada korbannya, seperti keinginan bunuh diri.
Kemudian untuk kasus perkosaan pada tahun 2021 yang dialporkan ke Nurani Perempuan, sebanyak 3 korban dalam kondisi hamil, 2 korban sudah melahirkan.
Baca Juga: Tiga Pencuri Mobil di Padang Ditembak Polisi
"Kasus kekerasan seksual yang ditangani oleh Nurani Perempuan sebanyak 55 kasus, 37 kasus merupakan korban anak, 32 anak perempuan, 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan disabilitas," ujarnya.
Sedangkan sisanya sebanyak 18 kasus korbannya adalah perempuan dewasa. Untuk kasus KDRT sebanyak 47 kasus, 14 kasus korbannya adalah anak, 9 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Untuk kasus KDRT pada anak, bentuknya adalah fisik, psikis dan penelantaran sedangkan pelakunya adalah orang tua (Ayah dan Ibu).
Dikatakan Merry, banyak orang berpikir bahwa kekerasan terjadi karena pendidikan masyarakat yang rendah, sehingga ada ketakutan untuk menolak terjadinya kekerasan.
Data Nurani Perempuan menunjukkan bahwa para korban rata-rata sekolah dan berpendidikan tinggi, sebanyak 29 korban tamat SMA, 26 korban tamat SD, 20 korban tamat SMP, 16 korban S1, 8 korban belum sekolah, 3 korban D3, 1 korban SDLB dan 1 korban S2.
Data ini menggambarkan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari tindakan kekerasan berbasis gender, kekerasan berbasis gender terjadi karena adanya relasi kuasa yang timpang antara perempuan dengan laki-laki ditambah lagi budaya patriarkhi yang mengakar sangat kuat ditengah-tengah masyarakat. Sehingga para pelaku kekerasan dengan mudahnya membangun relasi yang tidak sehat (toxic) sebagai modus dalam menguasai korbannya.
Sementara untuk Pelaku kekerasan pada tahun 2021 menurut data di Nurani Perempuan, ada 26 ragam pelaku dari 104 kasus dan semua itu adalah orang-orang terdekat (dikenal) korban, ada 8 kasus Incest (korban dan pelaku memiliki hubungan darah).
Tag
Berita Terkait
-
Pelajar SD Tewas Usai Tenggelam di Objek Wisata Bukik Chinangkiek Solok
-
Final Piala Soeratin Sumbar Digelar Tanpa Penonton
-
Eka Putra Masuk 10 Besar Bupati Terpopuler di Indonesia
-
1.764 Ton Ikan Mati di Danau Maninjau, Kerugian Mencapai Rp 35 Miliar
-
PSKB Bukittinggi dan Gasliko Dipastikan ke Liga 3 Babak Nasional
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dari Prompt hingga Strategi Bisnis, Buku Baru Dr. Dini Fronitasari Sasar Pelaku UMKM
-
IHR Merdeka Cup dan Sarga Festival Hadir di Sumatera Barat, Rayakan Semangat HUT ke-81 RI
-
WN India Ditangkap Polda Sumbar, Jual Emas dari Tambang Emas Ilegal ke Malaysia
-
BRI Borong Enam Penghargaan di Asia's Best Companies dan Finance Asia Awards 2026
-
Truk Rem Blong Kecelakaan di Silaing Bawah, Satu Korban Terjepit