- Survei penduduk BPS Sumbar tahun 2025 menunjukkan penurunan total angka kelahiran di Sumatera Barat menjadi 2,39 poin.
- Variasi fertilitas antarwilayah tercatat tertinggi di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebesar 2,73 dan terendah di Kota Padang.
- Angka kelahiran pada kelompok perempuan usia 15 hingga 24 tahun mengalami penurunan signifikan selama periode 2010 hingga 2025.
SuaraSumbar.id - Hasil survei penduduk antarsensus (Supas) 2025 BPS Sumbar menunjukkan bahwa angka kelahiran total di Sumatera Barat (Sumbar) turun 2,39 dibandingkan survei 2020 yakni 2,46.
"Hasil survei ini menegaskan bahwa tren penurunan masih terus berlanjut meskipun dengan laju yang lebih landai," kata Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin, melansir Antara, Senin, 1 Juni 2026.
Angka kelahiran total atau disebut juga dengan total fertility rate (TFR) menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh perempuan selama masa reproduksinya yakni rentang 15–49 tahun.
Angka kelahiran total di Sumbar mengindikasikan bahwa provinsi setempat semakin mengarah ke tingkat penggantian (replacement level), atau angka kelahiran rata-rata yang dibutuhkan agar suatu populasi dapat menggantikan dirinya sendiri dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa migrasi.
Hasil Supas 2025 juga menunjukkan tingkat fertilitas di Sumbar bervariasi antarwilayah. Sebagai contoh, Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan daerah dengan angka kelahiran total tertinggi yakni sebesar 2,73. Sementara, daerah angka kelahiran total paling rendah berada di Kota Padang 2,20.
"P," ujarnya.
Dalam survei tersebut, BPS juga mendalami angka kelahiran menurut kelompok umur tertentu yang menggambarkan jumlah kelahiran hidup per 1.000 perempuan pada kelompok umur tertentu.
Selama periode 2010–2025 menunjukkan adanya penurunan fertilitas terutama pada perempuan usia 15–24 tahun. Pada kelompok umur 15–19 tahun, angka kelahiran terus menurun dari 27,60 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2010 menjadi 10,36 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2025.
Sementara itu, puncak fertilitas selama periode 2010–2025 masih berada pada kelompok umur 25 hingga 29 tahun meskipun mengalami penurunan dari 165,90 menjadi 156,69.
Kemudian, BPS juga menemukan angka kelahiran kasar sebesar 18,23 kelahiran hidup per 1.000 penduduk di provinsi setempat. Angka ini menurun 0,84 poin dibandingkan hasil survei 2020 yakni sebesar 19,07.