-
Angin kencang picu ikan mati massal, petani Danau Maninjau merugi.
-
Puluhan ton ikan nila siap panen mati mendadak di keramba.
-
Kerugian petani capai Rp600 juta, kematian ikan berulang sejak 2025.
SuaraSumbar.id - Ikan mati massal di Danau Maninjau kembali terjadi dan menimbulkan kerugian besar bagi petani keramba jaring apung di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).
Peristiwa ini dipicu angin kencang yang melanda kawasan danau sejak beberapa hari terakhir dan berdampak langsung pada kondisi perairan.
Akibat cuaca ekstrem tersebut, kadar oksigen di dalam Danau Maninjau menurun sehingga ikan di dalam keramba jaring apung mati dan mengapung. Kematian ikan mulai terpantau sejak Minggu (25/1/2026) dan terus meluas di sejumlah titik.
Salah satu wilayah terdampak ikan mati massal Danau Maninjau berada di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya. Sejumlah petani mengalami kerugian ratusan juta rupiah akibat puluhan ton ikan nila siap panen mati secara mendadak.
Berikut fakta-faktanya.
1. Puluhan Ton Ikan Nila Mati di Keramba Jaring Apung
Salah seorang petani keramba jaring apung di Danau Maninjau, Resky Bayrmanto, mengungkapkan sekitar 20 ton ikan nila miliknya mati akibat peristiwa ikan mati massal Danau Maninjau. Ikan tersebut merupakan hasil budidaya dari 20 petak keramba jaring apung.
"Ke 20 ton ikan jenis nila siap panen dari 20 petak keramba jaring apung atau satu ton untuk satu petak," katanya.
Ikan-ikan tersebut sebelumnya berada dalam kondisi siap panen sebelum akhirnya mati dan mengapung di permukaan air. Kematian terjadi secara serentak setelah angin kencang melanda kawasan danau dalam beberapa hari terakhir.
2. Hanya Satu Ton Ikan Berhasil Diselamatkan
Dari total 20 ton ikan nila yang dibudidayakan, Resky menyebut hanya sekitar satu ton ikan yang berhasil diselamatkan dari peristiwa ikan mati massal Danau Maninjau. Ikan tersebut langsung dipanen lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Ikan yang masih hidup kemudian dijual ke pasar tradisional di Kabupaten Agam. Sementara itu, sebagian besar ikan lainnya tidak dapat diselamatkan karena kondisi air di dalam keramba telah mengalami penurunan kualitas.
Kematian ikan yang cepat membuat petani tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan pemindahan atau penyelamatan dalam jumlah besar.
3. Kerugian Petani Mencapai Rp 600 Juta
Akibat ikan mati massal Danau Maninjau, Resky mengaku mengalami kerugian mencapai Rp600 juta. Kerugian tersebut dihitung berdasarkan jumlah ikan yang mati dan harga jual ikan di tingkat petani.