alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

IDI Ungkap Penyebab Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isolasi Mandiri

Riki Chandra Kamis, 22 Juli 2021 | 14:10 WIB

IDI Ungkap Penyebab Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isolasi Mandiri
Ilustrasi Covid-19. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Banyak pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman di rumah meninggal dunia. Hal itu dibenarkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih.

SuaraSumbar.id - Banyak pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman di rumah meninggal dunia. Hal itu dibenarkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih.

Menurut Daeng, isoman hanya bisa dilakukan oleh pasien Covid-19 yang tanpa gejala atau juga gejala ringan. Sementara pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Namun, lantaran lonjakan kasus positif yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, diakui Daeng, masyarakat sulit mendapatkan tempat tidur di rumah sakit.

"Sekarang banyaknya yang meninggal saat isoman. Kita harus terbuka saja, banyak yang mestinya sudah dirawat di rumah sakit, dengan saturasi di bawah 94, bahkan mungkin saturasinya rendah sekali 80 atau 70, karena tidak dapat kamar (di rumah sakit) terpaksa dirawat dirumah. Ini memang agak berat, tapi terpaksa dirawat di rumah karena tidak ada tempat di rumah sakit. Ini memang yang menyebabkan banyak kasus meninggal," ucap Daeng saat konferesi pers virtual bersama Good Doctor, Kamis (22/7/2021).

Baca Juga: Ketua IDI Ungkap Penyebab Banyak Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman

Bahkan orang tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan juga ada yang meninggal saat isoman di rumah, lanjut Daeng. Hal itu biasanya disebabkan karena terjadi perburukan kondisi pasien, namun tidak disadari, sehingga terlambat mendapatkan perawatan medis yang tepat.

Daeng menekankan harus ada pengawasan oleh tenaga kesehatan bagi pasien Covid-19 yang isoman. Memang, tidak mungkin datang langsung ke rumah pasien, karena itu, Daeng menyampaikan bahwa pentingnya peran telemedicine yang bisa diakses oleh pasien melalui gawainya masing-masing dari rumah.

Selain itu, baik pasien maupun keluarganya harus memahami alarm atau tanda tubuh jika terjadi perburukan gejala Covid-19.

"Bagi yang melakukan isoman, ada alarm kapan dia harus mencari pertolongan ke rumah sakit. Pertama, sebenarnya secara keseluruhan kalau terjadi perburukan atau gejala yang tampak berat. Biasanya gejala yang dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Karena gangguan pernapasan sebagai tanda terjadi gejala pneumonia atau radang paru," jelasnya.

Gejala pneumonia di antaranya napas jadi lebih cepat dan pendek. Jika diukur respiratori atau kecepatan napas mencapai 24 kali per menit.

Baca Juga: Berkeliaran Selama Positif Covid dan Tolak Isoman, Begini Nasib Cewek Asal Rusia di Bali

"Itu sudah menunjukkan gejala gangguan napas, berarti dia sudah ada gejala pneumonia. Sudah masuk gradasi gejala sedang, bukan lagi gejala ringan, jadi tidak boleh lagi dilakukan isoman," imbuh Daeng.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait