Ernest Prakasa mengaku memahami tolak ukur sebuah acara televisi adalah rating yang tinggi. Namun demikian, lanjut Ernest, manusia juga punya tolak ukur tersendiri yakni hati nurani dan akal sehat.
“Okelah tolak ukur TV adalah rating, tapi tolak ukur manusia adalah nurani dan akal sehat. Menurut kalian ini wajar?” tutup Ernest Prakasa.
Unggahan Ernest Prakasa di Instagram itu kemudian banjir komentar dari warganet dan juga figur publik lain.
Banyak dari mereka yang menyayangkan Indosiar, serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang masih meloloskan sinetron tersebut tayang dengan adegan yang tidak pantas dimainkan oleh anak di bawah umur.
“Iyuhhhhh kok lolos KPI,” kata akun @begies__.
“GILAAAKKK @kpipusat ngapain aja lo?” komentar sutradara kawakan, Angga Dwimas Sasongko.
“TV tuh mustinya berkontribusi meningkatkan kualitas masyarakat, bukan sebaliknya! Oh my,” tulis Becky Tumewu.
“Kalian bisa memilih usia 20++ tahun untuk berperan sebagai siswa sekolah menengah namun tidak dapat menemukan usia 18++ tahun untuk berperan sebagai istri ketiga?” tanya Amel Carla heran.
“Goks ya, keinginan ramai dan rating tinggi terlalu besar sampe ga lupa sama moral,” kata Kristo Immanuel.
“Gini amat sih konten TV nasional, miris,” kata akun @ferlinasumanggara.