Ronald Seger Prabowo
Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:02 WIB
Seekor bayi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) lahir di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Cagar Alam (CA) Jantho, Kabupaten Aceh Besar. [Suara.com/dok]
Baca 10 detik
  • Seekor bayi Orangutan Sumatera betina lahir dari induk bernama Wenda di Cagar Alam Jantho pada 29 Juli 2026.
  • Kelahiran tersebut dikonfirmasi oleh Tim Post Release Monitoring setelah terpantau melalui kegiatan pemantauan rutin di Aceh Besar.
  • Peristiwa ini membuktikan keberhasilan program rehabilitasi pemerintah dan mitra dalam pemulihan populasi satwa liar di habitat aslinya.

SuaraSumbar.id - Kabar menggembirakan datang dari upaya pelestarian satwa liar di Indonesia. Seekor bayi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) lahir di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Cagar Alam (CA) Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

Kelahiran tersebut menjadi bukti keberhasilan program rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan yang dijalankan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama para mitra konservasi.

Tim Post Release Monitoring (PRM) mengonfirmasi kelahiran tersebut pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 16.30 WIB. Saat melakukan pemantauan, tim menemukan seekor orangutan betina dewasa bernama Wenda sedang menggendong bayinya.

Hasil pengamatan menunjukkan bayi orangutan tersebut diperkirakan berusia kurang dari sepekan dan berjenis kelamin betina. Sebelumnya, tanda-tanda kehamilan Wenda telah teridentifikasi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik yang terpantau selama kegiatan monitoring.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kelahiran bayi orangutan itu menjadi simbol harapan bagi keberlanjutan populasi Orangutan Sumatera di habitat alaminya.

"Kehadiran bayi ini adalah simbol harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan yang tak ternilai harganya.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi, menindak tegas perdagangan satwa liar ilegal, dan memastikan setiap orangutan yang dilepasliarkan memiliki kesempatan hidup, beradaptasi, serta berkembang biak di habitat alaminya," ujar Raja Juli Antoni, Minggu (2/8/2026).

Senada dengan itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian Cagar Alam Jantho.

"Komitmen untuk menjaga kelestarian Cagar Alam Jantho sebagai habitat orangutan sumatera dilakukan dengan memperkuat pengawasan, meningkatkan kolaborasi dengan mitra konservasi, serta melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman perusakan dan perdagangan satwa liar. Keberhasilan ini adalah kerja bersama, dan kami percaya bahwa dengan sinergi semua pihak masa depan orangutan sumatera dan habitatnya akan tetap terjaga," kata Ujang.

Baca Juga: Bongkar Pembalakan Liar di Mentawai, 11 Alat Berat hingga 7 Truk Disita!

Wenda merupakan orangutan hasil rehabilitasi yang memiliki perjalanan panjang sebelum kembali ke habitat alaminya.

Ia merupakan satwa sitaan yang dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit pada 2009 saat diperkirakan masih berusia sekitar satu tahun.

Setelah menjalani proses rehabilitasi, Wenda dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Jantho pada 2013 dan dilepasliarkan ke habitat alaminya setahun kemudian. Sejak saat itu, Wenda menjadi salah satu individu yang rutin dipantau oleh tim Post Release Monitoring untuk memastikan kondisi kesehatan dan kemampuan adaptasinya di alam liar.

Kelahiran bayi dari Wenda menjadi indikator bahwa orangutan hasil rehabilitasi mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di habitat alaminya. Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat optimisme terhadap efektivitas program konservasi Orangutan Sumatera yang terus dijalankan di Cagar Alam Jantho.

Load More